EDUAILA.COM - Konseling merupakan bagian penting dalam dunia pendidikan maupun kehidupan sosial. Ia hadir bukan hanya untuk menyelesaikan masalah, tetapi juga sebagai pendamping pertumbuhan diri, pembentuk kesadaran, dan pengarah dalam proses menciptakan kehidupan yang sehat, bermakna, dan berdaya.
Untuk memahami urgensi konseling, kita dapat meninjaunya dari berbagai sudut pandang.
1. Tinjauan Yuridis
Secara yuridis, layanan konseling memiliki dasar hukum yang kuat dalam sistem pendidikan nasional. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan bahwa pendidikan tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga pengembangan karakter, akhlak mulia, dan kepribadian.
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan juga menegaskan bahwa Bimbingan dan Konseling wajib diselenggarakan di sekolah untuk membantu peserta didik dalam pengembangan pribadi, sosial, belajar, dan karier. Artinya, konseling bukan pilihan, melainkan kebutuhan regulatif yang harus terpenuhi demi terciptanya pendidikan yang utuh.
2. Tinjauan Filsafat
Dalam perspektif filsafat, manusia adalah makhluk berpikir dan memiliki kebebasan untuk memilih. Namun, kebebasan ini memerlukan kesadaran dan bimbingan agar tidak berujung pada keterasingan, kebingungan, atau kesesatan moral.
Konseling hadir sebagai proses reflektif yang membantu individu menemukan makna hidup, memahami nilai-nilai, serta menyelaraskan pikiran, hati, dan tindakan. Konseling adalah perjalanan menuju kebijaksanaan diri, atau yang dalam filsafat sering disebut sebagai self-actualization dan hikmah.
3. Tinjauan Sosial, Budaya, dan Psikologis
Dalam realitas sosial dan budaya saat ini, masyarakat menghadapi berbagai tekanan: tuntutan akademik, perubahan norma, tekanan pergaulan, hingga krisis identitas. Dari sisi psikologis, individu sering mengalami kecemasan, stres, kebingungan emosi, maupun konflik sosial.
Konseling berfungsi sebagai ruang aman untuk membantu individu mengenali peran sosialnya, menata emosi, mengembangkan empati, dan membangun relasi sehat dengan lingkungan. Proses ini penting agar manusia mampu beradaptasi, tumbuh secara mental, dan tetap sehat dalam interaksi sosial.
4. Tinjauan Media Sosial dan Religius
Era digital melahirkan tantangan baru: distraksi, informasi tidak sehat, cyberbullying, hingga krisis spiritual. Media sosial sering menjadi arena perbandingan, tekanan sosial, dan kehilangan jati diri.
Di sinilah konseling berperan untuk menumbuhkan kesadaran digital, filter moral, dan penguatan spiritual. Dalam perspektif religius, konseling membantu manusia kembali pada fitrah, mendekat kepada Tuhan, dan menemukan ketenangan batin melalui nilai-nilai akhlak, sabar, syukur, dan tawakal.

0 comments:
Posting Komentar