EDUAILA.COM - Fenomena kecanduan siswa terhadap gawai, gim online, dan media sosial kini menjadi masalah serius dalam dunia pendidikan. Hal ini disampaikan Dwi Jatmiko, dosen sekaligus praktisi dakwah dan konseling, dalam Kuliah Perdana Program Studi Bimbingan Konseling Islam AILA, Selasa (25/11/2025).
Menurutnya, kecanduan digital tidak hanya berdampak pada penurunan prestasi belajar, tetapi juga melemahkan empati, mengganggu kesehatan mental, bahkan menurunkan kesadaran spiritual siswa. “Anak-anak hari ini tidak hanya kecanduan game dan media sosial, tetapi juga kecanduan validasi, mencari pengakuan melalui likes, komentar, dan popularitas maya,” ujar Dwi Jatmiko dalam paparannya.
Ia menegaskan, konselor pendidikan tidak cukup hanya berperan sebagai pemberi nasihat, tetapi harus menjadi pendamping yang memahami aspek psikologis, sosial, spiritual, dan digital.
“Guru BK hari ini harus menjadi detektor dini, fasilitator perubahan perilaku, sekaligus jembatan antara sekolah dan keluarga,” tambahnya.
Jatmiko juga menyoroti perubahan perilaku siswa yang cenderung menarik diri dari interaksi sosial, mudah cemas, cepat marah, hingga kehilangan semangat belajar. Ironisnya, banyak siswa yang tampak aktif di dunia maya tetapi pasif di dunia nyata, bahkan menjauh dari aktivitas ibadah dan pengembangan karakter.
Dalam kuliah perdana yang dihadiri mahasiswa, Dia menekankan pentingnya literasi digital dan pendekatan spiritual dalam sesi konseling.
“BK modern bukan sekadar memadamkan masalah, tetapi membangun ketahanan karakter generasi muda,” ujarnya.
Ia menutup dengan pesan penuh makna, “Anak tidak hanya butuh ilmu yang tinggi, tetapi juga hati yang sehat. Pendidikan sejati adalah yang menyentuh akal, membina moral, dan menghidupkan jiwa.”
Kuliah perdana ini menjadi refleksi bagi para calon konselor bahwa tantangan modern membutuhkan pendekatan baru, lebih empatik, humanis, dan berbasis nilai spiritual.



0 comments:
Posting Komentar