Dwi Jatmiko

Pendakwah

 


eduaila.com - Pengembangan karakter siswa merupakan tujuan utama pendidikan, khususnya di madrasah yang berlandaskan ajaran Islam. 


Namun, realitas di lapangan menunjukkan masih banyak siswa yang mengalami berbagai permasalahan, baik akademik, sosial, maupun moral. 


Kesulitan menginternalisasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari sering dipengaruhi oleh lemahnya pemahaman spiritual, kurangnya pengendalian diri, serta metode bimbingan yang belum optimal. 


Dalam konteks inilah, teknik konseling Islami hadir sebagai pendekatan yang relevan dan holistik untuk menangani siswa bermasalah.


Bimbingan dan Konseling Islam memiliki asas-asas fundamental yang berorientasi pada pembentukan karakter religius siswa. 


Asas kebahagiaan dunia dan akhirat menekankan bahwa setiap proses konseling tidak hanya bertujuan menyelesaikan masalah sesaat, tetapi juga mengarahkan siswa pada kebahagiaan hakiki yang bernilai ibadah. 


Asas fitrah memandang siswa sebagai makhluk Allah yang memiliki potensi kebaikan, sehingga konselor bertugas membantu mengembalikan siswa pada jati diri yang lurus sesuai fitrahnya.


Selanjutnya, asas amal saleh dan akhlak mulia menekankan pentingnya pembiasaan perilaku positif sebagai wujud nyata dari keimanan. 


Konselor tidak hanya memberi nasihat, tetapi juga membimbing siswa agar mampu mempraktikkan nilai-nilai Islam dalam sikap dan tindakan. 


Asas mujadalah, yaitu diskusi yang baik, diterapkan melalui dialog terbuka, santun, dan argumentatif sehingga siswa merasa dihargai dan dilibatkan dalam proses pemecahan masalah.


Adapun asas mau’izatul-hasanah menjadi landasan penting dalam menyampaikan bimbingan dengan penuh hikmah, kasih sayang, dan keteladanan. 


Melalui pendekatan ini, siswa tidak merasa dihakimi, melainkan diarahkan dengan kelembutan hati. Dengan mengintegrasikan asas-asas tersebut, teknik konseling Islami mampu memperkuat dimensi spiritual, intelektual, dan sosial siswa secara seimbang. 


Pada akhirnya, konseling Islami berperan strategis dalam membentuk siswa yang berkarakter Islami, berakhlak mulia, dan mampu menghadapi tantangan kehidupan secara bijaksana. 


Peran guru bimbingan dan konseling menjadi sangat strategis karena mereka berfungsi sebagai pendidik, pembimbing, sekaligus teladan akhlak. 


Dengan kompetensi profesional dan spiritual yang memadai, konselor Islami dapat menciptakan iklim pembinaan yang menenangkan, solutif, dan berkelanjutan bagi perkembangan kepribadian siswa di lingkungan sekolah. 


Pendekatan ini selaras dengan visi pendidikan Islam yang menyeimbangkan iman, ilmu, dan amal secara utuh.



 


eduaila.com - Tes Kemampuan Akademik (TKA) dilatarbelakangi oleh kebutuhan adanya pelaporan capaian akademik individu murid dari penilaian yang terstandar. Mulai tahun 2025, ada tes baru bernama Tes Kemampuan Akademik atau TKA.Tes ini resmi menggantikan Ujian Nasional yang sudah lama tidak dipakai.


Dikutip dari laman media sosial YouTube milik "Kemdikdasmen" Tujuan TKA adalah mengukur kemampuan belajar siswa secara merata di seluruh Indonesia. Prinsip pelaksanaannya tetap menekankan kejujuran, keterbukaan, dan hasil yang bisa dipertanggungjawabkan.





EDUAILA.COM - Pandangan Islam terhadap kekerasan seksual dalam pendidikan berangkat dari prinsip bahwa setiap manusia adalah makhluk mulia yang wajib dihormati martabat, kehormatan, dan keselamatannya. 


Al-Qur’an menegaskan larangan mendekati perbuatan keji, termasuk segala bentuk pelecehan, pemaksaan, dan eksploitasi tubuh. 


Nabi Muhammad SAW juga mencontohkan sikap penuh kasih, penghargaan terhadap perempuan, anak, dan kelompok rentan, serta melarang keras tindakan yang melukai fisik maupun batin.


Dalam konteks pendidikan, kekerasan seksual tidak hanya merusak korban, tetapi juga menghancurkan suasana belajar, kepercayaan diri, masa depan, bahkan nama baik lembaga. 


Islam memandang lembaga pendidikan sebagai tempat aman, suci, dan bermartabat. Guru diposisikan sebagai figur teladan, penjaga akhlak, bukan pelaku intimidasi atau penyalahgunaan kuasa. 


Oleh karena itu, setiap bentuk pelecehan, baik verbal, fisik, digital, maupun psikologis, termasuk dosa besar dan pelanggaran moral.


Islam menekankan tanggung jawab kolektif. 


Orang tua, pendidik, pengelola sekolah, dan masyarakat wajib mencegah, melindungi, melaporkan, serta memberi dukungan pemulihan bagi korban. 


Pendidikan tentang adab pergaulan, batas interaksi yang aman, literasi digital, dan kesadaran hak tubuh sangat penting ditanamkan sejak dini tanpa menimbulkan stigma.


Selain itu, keadilan harus ditegakkan. 


Pelaku harus diproses sesuai hukum negara dan nilai syariat yang menjunjung keadilan, pencegahan, dan efek jera, sementara korban harus dipulihkan martabatnya dengan empati, pendampingan psikologis, spiritual, dan sosial. 


Dengan demikian, Islam tidak hanya menolak kekerasan seksual, tetapi mendorong terciptanya ekosistem pendidikan yang aman, bermartabat, humanis, serta berlandaskan iman, takwa, dan penghormatan terhadap martabat kemanusiaan. 


Upaya ini menuntut komitmen kebijakan sekolah yang tegas, mekanisme pelaporan yang jelas, pelatihan etika bagi pendidik, serta budaya keterbukaan tanpa takut disalahkan. 


Kurikulum juga perlu memasukkan pendidikan karakter, nilai kesetaraan gender, dan penghargaan terhadap hak asasi manusia sebagai amanah keimanan.


 Bila nilai-nilai ini dijalankan, pendidikan tidak hanya mentransfer ilmu, namun membentuk generasi berakhlak, berani bersuara, saling melindungi, dan menghargai batasan. Inilah wujud nyata rahmat Islam yang melindungi setiap jiwa di lingkungan belajar. 


Dengan kesadaran bersama, sekolah menjadi tempat aman yang membesarkan harapan dan masa depan bagi seluruh siswa.


Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. 


Semoga Allah melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami nabi Muhammad SAW, beserta para keluarga dan sahabatnya. 


Ya Allah,segala yang telah ku kerjakan selama tahun ini dari apa yang menjadi larangan-Mu,sedang kami belum bertaubat,padahal Engkau tidak melupakannya dan Engkau bersabar (dengan kasih sayang-Mu), yang sesungguhnya Engkau berkuasa memberikan siksa untuk saya,dan Engkau telah mengajak saya untuk bertaubat sesudah melakukan maksiat.Karena itu ya Allah, saya mohon ampunan-Mu dan berilah ampunan kepada saya dengan kemurahan-Mu.


Do'a Akhir Tahun

اَللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي هَذِهِ السَّنَةِ مَا نَهَيْتَنِي عَنْهُ وَلَمْ أَتُبْ مِنْه وَحَلُمْتَ فِيْها عَلَيَّ بِفَضْلِكَ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوبَتِي وَدَعَوْتَنِي إِلَى التَّوْبَةِ مِنْ بَعْدِ جَرَاءَتِي عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّي اسْتَغْفَرْتُكَ فَاغْفِرْلِي وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَى وَوَعَدْتَّنِي عَلَيْهِ الثّوَابَ فَأَسْئَلُكَ أَنْ تَتَقَبَّلَ مِنِّي وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ 


Artinya, "Tuhanku, aku meminta ampun atas perbuatanku di tahun ini yang termasuk Kau larang-sementara aku belum sempat bertobat, perbuatanku yang Kau maklumi karena kemurahan-Mu-sementara Kau mampu menyiksaku, dan perbuatan (dosa) yang Kau perintahkan untuk tobat-sementara aku menerjangnya yang berarti mendurhakai-Mu. Karenanya aku memohon ampun kepada-Mu. Ampunilah aku".


Doa Awal Tahun

 اَللَّهُمَّ أَنْتَ الأَبَدِيُّ القَدِيمُ الأَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ العَظِيْمِ وَكَرِيْمِ جُوْدِكَ المُعَوَّلُ، وَهَذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ، أَسْأَلُكَ العِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِه، وَالعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ الأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ، وَالاِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ 

Artinya, "Tuhanku, Kau yang Abadi, Qadim, dan Awal. Atas karunia-Mu yang besar dan kemurahan-Mu yang mulia, Kau menjadi pintu harapan. Tahun baru ini sudah tiba. Aku berlindung kepada-Mu dari bujukan Iblis dan para walinya di tahun ini".

Previous PostPostingan Lama Beranda