Dwi Jatmiko

Pendakwah

Pendidikan yang Tersayat di Tengah Krisis Keteladanan

Leave a Comment

 


Oleh Ketua Komisi Dakwah MUI Alas


Hubungan antara murid dan guru kini tak lagi sehangat dulu.

Bukan rahasia, benturan antara siswa dan pengajar kian sering menghiasi ruang berita dan linimasa media sosial. Di tengah gempuran teknologi dan perubahan nilai, dunia pendidikan kita seakan kehilangan arah: guru kehilangan wibawa, murid kehilangan adab.


Fenomena ini bukan sekadar persoalan disiplin. Ia sudah menjelma menjadi krisis moral yang menggerogoti akar pendidikan nasional. Pendidikan yang sejatinya menanamkan budi pekerti, kini terjebak dalam formalitas nilai dan ijazah.


Hukum yang Tak Dikenal Guru

Undang-Undang Perlindungan Guru dan Dosen semestinya menjadi tameng bagi tenaga pendidik.


Namun di banyak sekolah, regulasi ini justru tak dipahami dengan baik.


Banyak guru yang tersudut ketika menghadapi konflik dengan murid atau orang tua, lantaran mereka tidak tahu hak-hak hukumnya sendiri.


Padahal, guru adalah ujung tombak pembangunan karakter bangsa—bukan pihak yang harus terus-menerus disalahkan.


Keteladanan yang Memudar

Di tengah derasnya arus digital dan gaya hidup instan, keteladanan menjadi barang langka.


Padahal di sanalah ruh pendidikan bertumpu.

Kurikulum boleh berubah, metode boleh berganti, tapi figur guru yang santun, berakhlak, dan berjiwa mendidik tetap menjadi inti pembentukan karakter murid.


Seorang guru sejatinya bukan hanya pengajar, tapi juga cermin nilai kehidupan.


Konseling yang Harus Dua Arah

Pendidikan ideal bukan sekadar ruang instruksi, tapi ruang dialog.

Konseling dua arah antara murid dan pendidik menjadi kunci pemulihan hubungan psikologis dan moral di sekolah.


Inilah implementasi dari amanat UUD 1945 Pasal 31 Ayat (3):

“Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.”


Namun di lapangan, banyak lembaga pendidikan yang lebih sibuk mengejar target akademik ketimbang mendidik hati.


Keluarga yang Lalai

Masalah di sekolah sering kali bermula dari rumah.

Banyak orang tua menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab moral kepada guru.


Padahal Allah Ta’ala berfirman dalam QS. At-Tahrim ayat 6:

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.”


Ayat itu bukan sekadar perintah spiritual, tetapi juga pesan tanggung jawab sosial.


Keluarga adalah madrasah pertama, dan tanpa pondasi akidah dan adab di rumah, sekolah akan kewalahan menambalnya.


Lingkungan Pendidikan yang Kotor

Tak sedikit lembaga pendidikan yang masih abai pada etika lingkungan.


Guru, staf, bahkan satpam yang masih merokok di area sekolah menunjukkan betapa lemahnya kesadaran keteladanan.


Bagaimana mungkin murid bisa disiplin jika orang dewasa di sekitarnya tak memberi contoh?


Krisis Ruh Pendidikan

Pendidikan Indonesia hari ini tengah sakit.

Ia kehilangan ruh: iman, adab, dan keteladanan.


Ketika ilmu dipisahkan dari akhlak, maka yang lahir bukan manusia berilmu, melainkan generasi yang cerdas tanpa arah.


Dan di situlah bahaya sejati dari kemajuan yang tak diimbangi dengan moralitas.

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 comments:

Posting Komentar