Ayat ini menegaskan bahwa dakwah melalui media dan jurnalisme merupakan bagian dari upaya kolektif umat untuk menyebarkan kebaikan.
Jurnalis dakwah dituntut hadir sebagai penjaga nurani publik, yang mengingatkan umat agar tidak terjebak dalam arus informasi menyesatkan.
Selain itu, jurnalis juga wajib berhati-hati dalam menyampaikan berita. QS. Al-Hujurat [49]: 6 memberi peringatan:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”
Ayat ini menjadi pedoman etika bagi jurnalis dakwah:
verifikasi berita, menjaga akurasi, dan menghindari fitnah.
Jurnalis Dakwah: Ciri dan Tanggung Jawab
Seorang jurnalis dakwah memiliki ciri khas:
- Berorientasi pada dakwah – setiap tulisan, liputan, dan berita diarahkan untuk membangun kesadaran umat, bukan sekadar mengejar sensasi.
- Menegakkan kebenaran – bekerja dengan prinsip tabayyun (klarifikasi) agar tidak menyebarkan informasi palsu.
- Beretika islami – mengedepankan adab, tidak menggunakan kata-kata kasar, serta menjunjung tinggi nilai keadilan.
- Berpihak pada umat – menghadirkan isu-isu keumatan, pendidikan, moral, dan sosial sebagai bahan renungan dan solusi.
Di era digital, jurnalis dakwah berperan strategis menyebarkan pesan Islam melalui media cetak, elektronik, hingga platform digital.
Dengan pena, kamera, dan mikrofon, mereka berjuang agar umat tidak hanya terinformasi, tetapi juga tercerahkan.
Mereka bukan sekadar peliput, tetapi juga mujahid informasi yang menjaga agar ruang publik tidak dipenuhi hoaks, ujaran kebencian, atau konten yang merusak moral.
Sebaliknya, mereka menebarkan optimisme, semangat ukhuwah, dan inspirasi kebaikan.
Menjadi jurnalis dakwah bukan sekadar profesi, melainkan panggilan iman.
Dengan berpegang pada pedoman Al-Qur’an—amar ma‘ruf nahi munkar dalam QS. Ali Imran: 104 dan prinsip tabayyun dalam QS. Al-Hujurat: 6, jurnalis dakwah diharapkan mampu menjadi cahaya peradaban.
Mereka hadir bukan hanya untuk melaporkan, tetapi juga untuk membimbing umat menuju keberkahan dan keselamatan.

0 comments:
Posting Komentar