Dwi Jatmiko

Pendakwah

Profil Jurnalis Dakwah

Leave a Comment

 



EDUAILA.COM, - Dalam dunia modern yang sarat dengan informasi, peran jurnalis tidak hanya sebatas penyampai berita, melainkan juga sebagai pengawal moral publik. 

Terlebih bagi jurnalis dakwah, profesi ini memiliki nilai tambah berupa misi spiritual: mengajak kepada kebaikan (amar ma‘ruf) dan mencegah kemungkaran (nahi munkar) dengan landasan Al-Qur’an dan sunnah.

Allah ﷻ berfirman dalam QS. Ali Imran [3]: 104:

وَلْتَكُنْ مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗوَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma‘ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”

Ayat ini menegaskan bahwa dakwah melalui media dan jurnalisme merupakan bagian dari upaya kolektif umat untuk menyebarkan kebaikan. 

Jurnalis dakwah dituntut hadir sebagai penjaga nurani publik, yang mengingatkan umat agar tidak terjebak dalam arus informasi menyesatkan.

Selain itu, jurnalis juga wajib berhati-hati dalam menyampaikan berita. QS. Al-Hujurat [49]: 6 memberi peringatan:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”

Ayat ini menjadi pedoman etika bagi jurnalis dakwah: 

verifikasi berita, menjaga akurasi, dan menghindari fitnah.

Jurnalis Dakwah: Ciri dan Tanggung Jawab

Seorang jurnalis dakwah memiliki ciri khas:

  1. Berorientasi pada dakwah – setiap tulisan, liputan, dan berita diarahkan untuk membangun kesadaran umat, bukan sekadar mengejar sensasi.
  2. Menegakkan kebenaran – bekerja dengan prinsip tabayyun (klarifikasi) agar tidak menyebarkan informasi palsu.
  3. Beretika islami – mengedepankan adab, tidak menggunakan kata-kata kasar, serta menjunjung tinggi nilai keadilan.
  4. Berpihak pada umat – menghadirkan isu-isu keumatan, pendidikan, moral, dan sosial sebagai bahan renungan dan solusi.

Di era digital, jurnalis dakwah berperan strategis menyebarkan pesan Islam melalui media cetak, elektronik, hingga platform digital. 

Dengan pena, kamera, dan mikrofon, mereka berjuang agar umat tidak hanya terinformasi, tetapi juga tercerahkan.

Mereka bukan sekadar peliput, tetapi juga mujahid informasi yang menjaga agar ruang publik tidak dipenuhi hoaks, ujaran kebencian, atau konten yang merusak moral.

 Sebaliknya, mereka menebarkan optimisme, semangat ukhuwah, dan inspirasi kebaikan.

Menjadi jurnalis dakwah bukan sekadar profesi, melainkan panggilan iman. 

Dengan berpegang pada pedoman Al-Qur’an—amar ma‘ruf nahi munkar dalam QS. Ali Imran: 104 dan prinsip tabayyun dalam QS. Al-Hujurat: 6, jurnalis dakwah diharapkan mampu menjadi cahaya peradaban. 

Mereka hadir bukan hanya untuk melaporkan, tetapi juga untuk membimbing umat menuju keberkahan dan keselamatan.

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 comments:

Posting Komentar