Prinsip ini melahirkan ketenangan, karena klien diajak memahami bahwa ujian hidup adalah bagian dari rencana Ilahi.
Prinsip selanjutnya adalah rahmah dan empati, di mana konselor harus menampilkan sikap kasih sayang, memahami kondisi klien tanpa menghakimi, serta membangun hubungan yang penuh kepercayaan.
Selain itu, konseling Islam menekankan pendekatan akhlak, yakni mengarahkan klien pada perilaku yang lebih baik berdasarkan nilai moral Islam.
Hal ini dilakukan melalui nasihat yang bijak, refleksi diri, dan motivasi untuk memperbaiki diri.
Prinsip tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa juga menjadi bagian penting, yaitu membantu klien membersihkan hati dari kecemasan, rasa bersalah, atau putus asa melalui dzikir, doa, dan penguatan spiritual.
Menurut Dwi Jatmiko, konseling Islam juga harus profesional dan ilmiah, memadukan pengetahuan psikologi modern dengan nilai religius sehingga relevan dengan kebutuhan zaman.
Dengan prinsip-prinsip tersebut, konseling Islam diharapkan mampu menghadirkan ketenangan batin, keteguhan iman, serta perubahan perilaku yang lebih positif dalam kehidupan individu dan sosial.



0 comments:
Posting Komentar