Dwi Jatmiko

Pendakwah

KONSELING PENDIDIKAN: Membangun Guru yang Menghadirkan Kemudahan dan Kegembiraan Belajar

1 comment

 


EDUAILA.COM - Dalam dunia pendidikan, guru memiliki peran yang sangat strategis sebagai figur yang membimbing, mengarahkan, sekaligus menginspirasi peserta didik. 


Kehadiran guru di dalam kelas tidak hanya sebatas penyampai materi, tetapi juga sebagai sosok yang mampu menghadirkan kemudahan, ketenangan, dan kegembiraan belajar


Konsep ini selaras dengan prinsip yassiru wa basysyiru, yakni memudahkan dan membawa berita gembira dalam setiap proses pendidikan.

 

Untuk mewujudkan suasana belajar yang positif, seorang guru perlu memiliki pribadi yang matang lahir dan batin. 


Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an, surat Ali Imran ayat 159, yang mengajarkan pentingnya kelembutan, empati, serta kasih sayang dalam memimpin dan membina manusia. 


Seorang guru yang mampu mengelola emosi, memiliki ketulusan hati, serta memancarkan akhlak mulia, akan lebih mudah diterima oleh peserta didik.


Selain itu, konseling pendidikan menekankan pentingnya interaksi edukatif yang kaya nilai


Interaksi ini bukan hanya komunikasi formal antara guru dan murid, tetapi relasi yang mengandung unsur perhatian, keteguhan, serta kepedulian sebagaimana nilai yang terkandung dalam QS. At-Taubah ayat 128–129. 


Dengan menghadirkan interaksi yang penuh makna, guru dapat membangun hubungan emosional yang kuat, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan menyenangkan.


Keteladanan juga menjadi bagian penting. Guru bukan hanya dituntut mengajarkan ilmu, tetapi juga menjadi sosok yang ditatazimi, ditaati, dan dirindukan oleh peserta didik. 


Prinsip ini tercermin dalam QS. Ali Imran ayat 31, yang menekankan bahwa kecintaan kepada Allah tercermin melalui ketaatan kepada figur teladan. 


Ketika guru mampu menghadirkan integritas, keikhlasan, dan keramahan, murid akan merasa nyaman dan termotivasi untuk belajar.


Melalui konseling pendidikan, guru diarahkan untuk terus mengembangkan kompetensi diri, memperbaiki pola interaksi, dan menghadirkan suasana belajar yang humanis. 


Dengan demikian, guru bukan hanya menjadi pengajar, tetapi juga pembimbing yang dihormati dan memberi warna positif dalam perjalanan hidup anak-anak. 


Pendidikan yang menggembirakan berawal dari guru yang membahagiakan.

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

1 komentar: