Dwi Jatmiko

Pendakwah

Membangun Kepemimpinan dan Kekuatan Ruhani di Era Digital

Leave a Comment

 


EDUAILA.COM - Kepemimpinan yang kuat tidak lahir dari kenyamanan, tetapi dari keberanian menghadapi tantangan. Setiap rintangan besar selalu membawa peluang lahirnya pemimpin besar.

Sebaliknya, kemanjaan yang dibentuk oleh fasilitas berlebih justru dapat melemahkan karakter dan kemampuan seseorang dalam memimpin. 

Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat melihat tiga model manusia dalam menghadapi kesulitan. Pertama, Quitter, yaitu mereka yang memilih untuk menghindar dan lari dari tantangan. 

Kedua, Camper, yaitu orang-orang yang hanya menunggu dan melihat, tanpa berani melangkah ke depan. 

Ketiga, Climber, yakni mereka yang siap mendaki dan terus bergerak menghadapi berbagai kesulitan.

Kekuatan karakter tidak lahir secara tiba-tiba, tetapi melalui proses internalisasi nilai-nilai positif yang ditanamkan dan dipraktikkan secara berulang hingga menjadi kebiasaan. Nilai yang diulang akan membentuk sikap spontan dan autentik.

 

Namun, di era digital saat ini, banyak perilaku manusia terjebak dalam proses digitalisasi diri. Banyak kebaikan hanya tampak pada permukaan, sedangkan ruang ruhani di dalamnya justru melemah. Padahal, kekuatan yang mampu membawa perubahan besar bukanlah pesona fisik, melainkan kekuatan RUH.


Kebaikan yang berakar dari ruh melahirkan ketulusan dan energi positif yang berdampak luas. Ketika seseorang berbuat baik dari ruhani yang kuat, ia memancarkan vibrasi perubahan


Selama ini banyak orang mengenal sugesti positif melalui konsep NLP dan mekanisme alam bawah sadar. 


Namun, terdapat pendekatan yang lebih tinggi, yaitu MLP (Maha Linguistic Program), yang bekerja pada tingkat super sadar. 


Level ini menghubungkan manusia tidak hanya dengan realitas mikro dan makro, tetapi juga dengan energi mahakosmos.


Melalui vibrasi tersebut, seseorang tidak hanya mengalami perubahan perilaku, tetapi juga mendapatkan pencerahan


Pencerahan ini hadir dalam beberapa tingkatan, dan setiap orang dapat berada pada level yang berbeda. Pertanyaannya: sudahkah kita bertumbuh menjadi seorang Climber yang terus naik menuju pencerahan itu?


Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 comments:

Posting Komentar