EDUAILA.COM - Jika semua yang kita kehendaki terus kita miliki, dari mana kita belajar ikhlas? Jika semua yang kita impikan segera terwujud, dari mana kita belajar sabar? Dan jika setiap doa yang kita panjatkan langsung dikabulkan, bagaimana kita dapat belajar ikhtiar?
Hidup tidak selalu tentang mendapatkan apa yang kita mau, tetapi tentang bagaimana kita belajar menerima apa yang Allah berikan.
Allah tidak pernah salah menempatkan kita dalam situasi apa pun. Setiap hal yang terjadi — baik itu kebahagiaan, kehilangan, kesedihan, atau penantian — semuanya adalah bagian dari proses pembelajaran yang Allah desain dengan sempurna.
Seorang yang dekat dengan Tuhan bukan berarti hidupnya tanpa air mata. Seorang yang taat bukan berarti tak pernah kekurangan.
Dan seorang yang tekun berdoa bukan berarti tak memiliki masa sulit. Justru di balik air mata, kesulitan, dan ujian itulah Allah sedang mendidik hati kita agar semakin kuat, semakin lembut, dan semakin bergantung kepada-Nya.
Biarlah Allah yang berdaulat sepenuhnya atas hidup kita, sebab Dia tahu yang terbaik dan yang paling tepat untuk diberikan pada waktu yang paling indah.
Ketika kerja kerasmu tidak dihargai, sesungguhnya saat itu kamu sedang belajar tentang ketulusan. Ketika usahamu dianggap tidak penting, kamu sedang belajar tentang keikhlasan.
Ketika hatimu terluka sangat dalam, kamu sedang belajar memaafkan. Ketika kamu merasa lelah dan kecewa, kamu sedang belajar kesungguhan. Ketika kamu merasa sepi dan sendiri, kamu sedang belajar ketangguhan.
Dan ketika kamu rela membayar sesuatu yang sebenarnya bukan tanggung jawabmu, kamu sedang belajar kemurahan hati.
Semua peristiwa itu bukan kebetulan. Itu adalah bagian dari Universitas Kehidupan, tempat kita belajar langsung dari pengalaman yang Allah berikan.
Di universitas ini, Allah adalah dosen utama, waktu adalah ruang kelasnya, dan ujian adalah cara untuk naik tingkat menuju kedewasaan iman.
Allah berfirman:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 216)
Ayat ini mengajarkan bahwa tidak semua yang kita inginkan baik untuk kita, dan tidak semua yang kita hindari buruk bagi kita.
Karena Allah tahu isi hati kita, tahu batas kemampuan kita, dan tahu waktu yang paling tepat untuk mengabulkan doa-doa kita.
Orang yang hebat tidak lahir dari kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan. Mereka dibentuk melalui kesukaran, tantangan, dan air mata.
Allah sedang melatih kita agar hati ini tidak rapuh, agar jiwa ini tidak mudah menyerah, dan agar iman ini tidak bergantung pada keadaan.
Maka, tetaplah semangat, tetaplah sabar, dan tetaplah tersenyum, meski hati sedang diuji. Karena sesungguhnya, setiap rasa sakit mengajarkan kesabaran, setiap kehilangan menumbuhkan keikhlasan, dan setiap penantian melatih keteguhan.
Allah menaruhmu di tempatmu yang sekarang bukan karena kebetulan, tetapi karena ada tujuan besar yang sedang Ia rancang untuk kebaikanmu.
Universitas kehidupan tidak memberikan ijazah di dunia, tapi memberikan gelar kemuliaan di sisi Allah.
Dan hanya mereka yang lulus dengan kesabaran, keikhlasan, dan ketulusan yang kelak akan memahami bahwa setiap air mata, setiap luka, dan setiap doa yang belum terjawab — ternyata adalah bagian dari cara Allah berkata lembut:
“Aku tahu kamu bisa.”

0 comments:
Posting Komentar