Dwi Jatmiko

Pendakwah

Sulfian: Musyrif yang Mendidik dengan Keteladanan dan Dakwah Inspiratif

Leave a Comment

 



EDUAILA.COM - Berada di lingkungan pesantren menuntut seseorang tidak hanya sekadar mengajar, tetapi juga menjadi teladan. Sosok Sulfian, seorang musyrif dan guru di Pondok Pesantren Bina Dakwah 5 Karangan, Berau, Kalimantan Timur, telah menunjukkan makna sejati dari peran pendidik yang menginspirasi.

Pria kelahiran Biatan Bapinang, Kabupaten Berau, ini tak hanya dikenal sebagai pengajar mata pelajaran Adab dan Akhlak, tetapi juga sebagai pembina santri yang sabar dan berdedikasi. Dalam kesehariannya, Sulfian membimbing para santri bukan hanya lewat kata, tetapi juga dengan tindakan nyata. “Santri itu belajar bukan dari apa yang kita katakan, tapi dari apa yang kita lakukan,” ujarnya dengan senyum tenang.

Mendidik dengan Hati

Sebagai seorang musyrif, Sulfian bertanggung jawab membentuk karakter para santri melalui kedisiplinan dan kemandirian. Ia percaya bahwa pendidikan sejati bukan hanya di ruang kelas, tetapi juga di asrama dan kegiatan harian. “Ketika santri bangun tepat waktu, menjaga kebersihan, atau menolong temannya, itu juga bagian dari dakwah,” tuturnya.

Di tengah kesibukannya mengajar, ia juga aktif mengelola bidang media pesantren. Dari tangannya, lahir berbagai konten dakwah kreatif yang menginspirasi dan memperkenalkan pesantren kepada masyarakat luas. Ia memanfaatkan kemampuannya dalam desain dan editing menggunakan Canva untuk membuat publikasi yang menarik dan bernuansa islami.

Melatih Generasi Da’i Muda

Salah satu kiprah menonjol Sulfian adalah perannya sebagai koordinator bidang dakwah santri. Ia rutin melatih santri dalam public speaking, menyusun naskah ceramah, hingga tampil di masjid-masjid sekitar. Dengan metode pembelajaran yang menyenangkan dan interaktif, santri-santri bimbingannya kini mulai percaya diri berdiri di depan jamaah.

“Dakwah itu bukan hanya berbicara di mimbar, tapi juga bagaimana kita menanamkan nilai-nilai Islam dalam diri santri agar siap menjadi dai di masyarakat,” kata lulusan STITNU Pangandaran dengan IPK sempurna 4.00 ini.

Kreativitas dan Kepemimpinan

Selain menguasai bidang keilmuan, Sulfian juga dikenal sebagai pribadi yang komunikatif dan berjiwa pemimpin. Ia terbiasa memimpin kegiatan pesantren, mengatur jadwal harian santri, serta berkolaborasi dengan sesama guru untuk menciptakan lingkungan belajar yang produktif dan religius.

Dengan kemampuan menulis naskah ceramah dan materi dakwah, Sulfian tak hanya melatih santri untuk berbicara, tetapi juga berpikir kritis dan menulis dengan ruh dakwah. “Saya ingin santri bukan hanya pandai berbicara, tapi juga mampu menulis ide dakwahnya agar bisa dibaca oleh banyak orang,” tuturnya.

Inspirasi dari Biatan untuk Umat

Di balik ketenangan dan kesederhanaannya, Sulfian menyimpan semangat besar untuk terus belajar dan berdakwah. Baginya, menjadi guru dan musyrif bukan sekadar profesi, tetapi amanah. Ia ingin menjadikan pesantren sebagai pusat lahirnya generasi berilmu, berakhlak, dan berdampak.

“Kalau santri kita kelak bisa jadi dai, guru, atau pemimpin yang berakhlak, itulah kebahagiaan terbesar saya,” pungkasnya dengan nada penuh syukur.

Dari Biatan Bapinang hingga pesantren Bina Dakwah, langkah Sulfian menjadi bukti bahwa dakwah bisa dilakukan dari mana saja — dengan ilmu, akhlak, dan keteladanan.

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 comments:

Posting Komentar