Bekasi – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan urban Kota Bekasi, sosok Neng Aisi Pariha hadir sebagai teladan sederhana yang konsisten menebar cahaya ilmu dan kasih sayang melalui Majelis Taklim Al-Amanah. Berawal dari semangat menimba dan membagikan ilmu agama, ibu rumah tangga kelahiran Bekasi, 4 Februari 1975 ini, kini memimpin majelis yang menjadi wadah ukhuwah islamiyah bagi kaum perempuan di lingkungannya.
Sejak tahun 2011, Neng Aisi mulai aktif dalam kegiatan majelis. Empat tahun kemudian, tepatnya 2015, ia dipercaya sebagai Kepala Majelis Taklim Al-Amanah, yang berdiri sejak 2012 di Jalan Tari Kolot, Kelurahan Cikiwul, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat.
Visi dan Misi Dakwah yang Membumi
Majelis Taklim Al-Amanah memiliki visi mulia: menyebarkan syiar Islam dan mempererat ukhuwah islamiyah.
Melalui misi yang diwujudkan dalam bentuk pengajian rutin, pembelajaran agama, dan silaturahmi antarjamaah, majelis ini berupaya membangun suasana kebersamaan dan meningkatkan keimanan serta akhlak umat di tengah tantangan kehidupan modern.
“Kami ingin agar majelis taklim tidak hanya menjadi tempat mendengar ceramah, tapi juga menjadi rumah bagi hati—tempat belajar, berbagi, dan memperbaiki diri,” tutur Neng Aisi dengan senyum hangatnya.
Program Unggulan: Dari Sosial hingga Spiritualitas
Di bawah kepemimpinannya, Al-Amanah tak hanya fokus pada kegiatan keagamaan, tetapi juga sosial kemasyarakatan.
Beberapa program unggulan yang rutin dilaksanakan antara lain:
Sosialisasi kebijakan pemerintah bagi warga sekitar
Pembentukan koperasi UMKM untuk kemandirian ekonomi jamaah
Santunan anak yatim
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW
Kegiatan ziarah sebagai bentuk refleksi dan silaturahmi spiritual
Kekhasan majelis ini juga terletak pada kajian kitab Uqudulujain dan pendalaman ilmu Tajwid. Jamaah diajak memahami makna syariat sekaligus memperindah bacaan Al-Qur’an, sehingga ilmu yang diperoleh tidak berhenti pada teori, tetapi membekas dalam amalan.
Ruang Ekspresi Jamaah Lewat Qosidah dan Paduan Suara
Selain kegiatan pengajian, Al-Amanah juga membuka ruang ekspresi bagi jamaahnya. Ada kelompok qosidah dan paduan suara yang dibentuk untuk mengiringi perayaan hari besar Islam, seperti Maulid Nabi.
Lewat kegiatan ini, para ibu tak hanya menyalurkan bakat seni, tapi juga menumbuhkan semangat kebersamaan dan keindahan dalam berdakwah.
Kiprah dan Prestasi
Meski sederhana, kiprah Majelis Taklim Al-Amanah patut diapresiasi. Dalam lima tahun terakhir, majelis ini berhasil menorehkan prestasi di bidang keagamaan, di antaranya:
Juara 3 MTQ Syahril Qur’an
Lomba Paduan Suara Islami
Prestasi ini menjadi bukti bahwa majelis taklim tidak hanya menjadi tempat mengaji, tetapi juga wadah pembinaan potensi dan bakat jamaah.
Kemandirian dan Kepedulian Sosial
Neng Aisi menyadari pentingnya menumbuhkan kemandirian dan kepedulian dalam diri jamaah. Karena itu, ia mendorong setiap anggota majelis untuk berinfaq dalam setiap pengajian.
“Berapapun yang kita sisihkan, itu menjadi energi untuk menghidupkan kegiatan dakwah dan membantu sesama,” ujarnya.
Menatap Masa Depan dengan Terobosan Baru
Melangkah ke depan, Neng Aisi telah menyiapkan sejumlah terobosan program:
Penguatan Kajian Kitab, dengan sistem pembelajaran lebih terstruktur
Pembinaan Jamaah, mencakup aspek agama, akhlak, dan sosial
Pelatihan Keterampilan Rumah Tangga dan Kewirausahaan
Program Sosial dan Santunan Yatim
Gerakan Majelis Ramah Lingkungan, melalui penghijauan dan kebersihan lingkungan
Meskipun beberapa bidang seperti PHBS dan cinta lingkungan belum berjalan optimal, semangat perbaikan terus digelorakan.
Sederhana tapi Menginspirasi
Dalam kesehariannya, Neng Aisi dikenal sebagai pribadi lembut, disiplin, dan penuh dedikasi. Ia bukan hanya pemimpin majelis, tetapi juga penggerak hati di lingkungannya.
Lewat ketekunan dan keikhlasannya, Majelis Taklim Al-Amanah kini tumbuh menjadi sumber keteduhan dan pembelajaran bagi kaum ibu di sekitar Bantargebang.
“Yang penting bukan seberapa besar majelis ini, tapi seberapa banyak hati yang tersentuh dan semakin dekat dengan Allah,” ucapnya lirih.
Dengan prinsip itu, Neng Aisi Pariha terus menebar cahaya dakwah dari Bekasi—membuktikan bahwa dari ruang sederhana, bisa lahir gerakan besar yang membawa manfaat bagi umat.

0 comments:
Posting Komentar