Dwi Jatmiko

Pendakwah

Dai dan Daiyah Harus Mampu Menulis Berita

Leave a Comment


Samarinda, EDUAILA.COM - Dosen Akademi Islamic Learning Academy (AILA), Dwi Jatmiko, menegaskan bahwa kemampuan menulis berita menjadi keterampilan penting bagi para dai dan daiyah di era digital. 


Hal itu disampaikan dalam kegiatan perkulihan daring AILA yang diikuti para peserta dari berbagai daerah, Selasa (7/10/2025).


Menurutnya, dakwah di masa kini tidak cukup hanya disampaikan melalui mimbar dan ceramah, tetapi juga perlu diperluas melalui media tulisan. 


Bentuk sederhana yang bisa dilakukan para dai adalah menulis berita model straight news—berita langsung yang faktual, ringkas, dan informatif.


“Dai dan daiyah harus bisa menulis berita sederhana dan faktual. Dakwah tidak berhenti di panggung, tapi juga bisa hidup lewat tulisan yang mencerahkan dan menggugah,” ujar Dwi Jatmiko dalam sesi perkulihan ke-empat AILA.

 

Acara yang berlangsung melalui platform Zoom. Hadir dalam kegiatan perkuliahan baik Alrako Ibrahim, serta diikuti oleh para peserta seperti Awang Firman, Indra Sarosa, Fadhil Febriansyah, Sul Fian, Ambar Wulansari, dan Neng Aisi Pariha.


Dalam perkulihan tersebut, peserta diperkenalkan pada teknik dasar penulisan berita, mulai dari menentukan sudut pandang (angle), menulis judul efektif, hingga menerapkan prinsip 5W+1H dalam karya jurnalistik dakwah.


“Berita yang ditulis dai dan daiyah bisa menjadi sarana dakwah modern yang efektif. Masyarakat hari ini membutuhkan bacaan yang sejuk, mencerahkan, dan membawa nilai-nilai Islam,” tambah Dwi Jatmiko.

 

Kegiatan perkulihan literasi dakwah ini menjadi bagian dari komitmen AILA untuk meningkatkan kompetensi para dai dan daiyah di bidang komunikasi Islam dan media. 


Melalui kemampuan menulis berita, para dai diharapkan mampu menyebarkan nilai dakwah secara lebih luas, bijak, dan profesional.


🍃 QUOTES OF THE DAY 🍃


وَجَزٰۤؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۚفَمَنْ عَفَا وَاَصْلَحَ فَاَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِ ۗاِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ


"Balasan suatu keburukan adalah keburukan yang setimpal. Akan tetapi, siapa yang memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat), maka pahalanya dari Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang zalim."

(QS. asy-Syura: 40)

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 comments:

Posting Komentar