Oleh Ust. Rachmat Agung Cahyo, S.E.
Juru Kisah Nasional
Manusia mulia kekasih Allah SWT pun tak pernah luput dari ujian. Bahkan, cobaan yang datang padanya mungkin lebih besar daripada apa yang kita alami saat ini. Hal itu bukan tanpa maksud: sebagai bukti keimanan sekaligus teladan bagi seluruh umat, agar darinya kita belajar bersabar dalam menghadapi setiap ujian hidup.
Deretan Ujian Rasulullah
Perjalanan hidup Rasulullah SAW tak lepas dari kesedihan karena kehilangan, bahkan sebelum Beliau lahir, saat sekitar enam bulan dalam kandungan, Ayahnya telah mendahului pergi, Wafat. Kemudian ketika berusia enam tahun, di tengah perjalanan pulang dari ziarah makam Ayah di Madinah, sekitar 35 kilo meter perjalanan, baru sampai di kota Abwa' Ibunda Aminah sakit kemudian wafat.
Selanjutnya, Beliau diasuh oleh Kakek Abdul Muthalib, dua tahun kemudian, jatah usia sang kakek yang menyayanginya sudah habis, Abdul Muthalib wafat, meninggalkan Rasulullah diwaktu masih kecil usia 8 tahun. Barulah kemudian, Pamannya, Abu Thalib yang penuh cinta menjaga dan melindungi Beliau dengan segenap hati.
Pada tahun kesepuluh kenabian (sekitar tahun 619 Masehi), Rasulullah kehilangan dua orang yang menjadi benteng perlindungan-Nya: Abu Thalib dan istri tercinta, Khadijah binti Khuwailid RA. Kepergian kedua orang terkasih itu membuat orang-orang kafir semakin berani mengganggu Beliau, bahkan menertawakan kesedihan yang dialami oleh kekasih Allah.
Allah Hibur Rasulullah
Di tengah kesusahan yang mendalam itu pada tahun ke dua belas setelah kenabian (sekitar tahun 622 M) Allah SWT tidak tinggal diam. Pada suatu malam di bulan Rajab, Beliau mengutus malaikat Jibril AS untuk membawa Rasulullah dalam perjalanan luar biasa – Isra' dan Mi'raj.
Dengan kendaraan yang kecepatannya seperti kilat bernama Buraq, Rasulullah dibawa dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem. Dari sana, Beliau naik meninggalkan bumi, melintasi tujuh lapis langit hingga mencapai Sidratul Muntaha, menghadap Sang Pencipta.
Allah SWT berfirman: "Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Al-Isra' [17]: 1)
Hikmah
Di dunia ini, tak ada yang kekal selain Allah SWT. Orang-orang yang kita cintai, dan mereka yang mencintai kita, pasti akan pergi meninggalkan kita – atau bahkan kita yang mendahului mereka. Namun, satu hal yang pasti: Allah tidak akan pernah meninggalkan kita, selama kita tetap menyadari keberadaan-Nya dan terus mendekatkan diri pada-Nya.
Setelah peristiwa Isra' dan Mi'raj yang terjadi pada tanggal 27 Rajab, Rasulullah menjadi lebih mantap dan teguh. "Oleh-oleh" berharga dari perjalanan semalam itu adalah wahyu perintah sholat lima waktu dalam sehari semalam. Sholat bukan sekadar kewajiban, melainkan kesempatan emas untuk menghadap Allah, merasakan kehadiran-Nya yang selalu menyertai kita.
Mari kita berusaha menikmati setiap saat menghadap-Nya dalam sholat, dengan menyadari bahwa kita tidak pernah sendirian – Allah SWT selalu bersama kita.

0 comments:
Posting Komentar