Oleh : Andy Ratmanto, SH / Ketua Majelis Kader PCM Banjarsari, Sekretaris PRM Setabelan, Anggota MHH KKP PDM Surakarta, Anggota Korps mubaligh Muhammadiyah PDM Solo, Anggota Korps mubaligh Muhammadiyah PCM Banjarsari
Masjid bukan sekadar tempat sujud. Sejak awal sejarah Islam, masjid menjadi pusat peradaban tempat lahirnya ilmu, solidaritas, dan gerakan sosial yang mencerahkan umat. Di Indonesia, peran masjid sesungguhnya tak pernah kecil. Dari masjid pula, semangat kebangkitan bangsa tumbuh dan menyala.
Pada masa perjuangan kemerdekaan, banyak tokoh bangsa lahir dari lingkungan masjid. Di sanalah mereka belajar disiplin, kepemimpinan, dan kepedulian sosial. Masjid menjadi ruang rakyat berkumpul, membicarakan nasib bangsa, dan menyusun strategi kemerdekaan. Masjid bukan hanya rumah ibadah, tetapi juga rumah kebangkitan.
Kini, di era modern yang penuh tantangan moral, sosial, dan ekonomi, masjid kembali memikul tanggung jawab besar. Di tengah hiruk pikuk digitalisasi dan globalisasi, masjid harus tampil sebagai pusat pencerahan umat mengajarkan keseimbangan antara ibadah dan amal sosial, antara spiritualitas dan kemajuan ilmu pengetahuan.
Gerakan pemberdayaan ekonomi umat, pendidikan berbasis masjid, hingga dakwah digital yang sejuk dan berwawasan kebangsaan adalah wujud nyata kebangkitan baru dari masjid. Dari mimbar yang sederhana, lahir gagasan besar untuk membangun masyarakat yang berakhlak, mandiri, dan berdaya saing.
Bangsa Indonesia tidak akan pernah kehilangan arah selama masjid tetap menjadi poros nilai dan moral masyarakat. Dari maskid kita belajar bahwa kemajuan tidak bisa dipisahkan dari ketakwaan. Dari masjid kita memahami bahwa perubahan sejati bermula dari hati yang bersih dan niat yang tulus untuk berbuat kebaikan.
Maka, mari kita hidupkan kembali peran masjid sebagai pusat gerakan umat tempat menebar ilmu, menumbuhkan solidaritas, dan membangun kemandirian. Karena dari masjid, Indonesia akan bangkit.
Kini, tantangan umat Islam tidak lagi pada penjajahan fisik, melainkan pada kemiskinan, ketimpangan sosial, dan krisis moral. Di tengah derasnya arus globalisasi, masjid kembali dituntut untuk memainkan peran strategisnya. Masjid perlu menjadi pusat pemberdayaan umat bukan hanya tempat doa, tetapi juga tempat belajar, berdiskusi, dan berinovasi.
Gerakan ekonomi berbasis masjid, koperasi jamaah, pendidikan anak dan remaja, hingga pelatihan keterampilan adalah contoh nyata bahwa masjid bisa menjadi poros perubahan sosial. Dengan pengelolaan yang profesional dan terbuka, masjid berpotensi besar menjadi lokomotif kemandirian umat.
Bangsa ini tidak akan bangkit hanya dengan pembangunan fisik. Kita membutuhkan kebangkitan spiritual kesadaran bahwa moral, integritas, dan empati adalah fondasi kemajuan. Masjid menjadi tempat terbaik untuk menanamkan nilai-nilai itu.
Dari masjid, kita belajar disiplin waktu, keikhlasan, kepedulian, dan kebersamaan. Nilai-nilai inilah yang harus diterjemahkan ke dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik bangsa.
Kebangkitan Indonesia bermula dari kebangkitan umat, dan kebangkitan umat berawal dari masjid. Jika setiap masjid mampu menjadi pusat kemajuan dan keteladanan, maka ribuan masjid di seluruh Indonesia akan menjadi cahaya yang menuntun bangsa ini menuju peradaban yang berkeadilan dan berkemajuan.
Masjid bukan lagi simbol masa lalu, tetapi sumber inspirasi masa depan. Dari masjid, Indonesia akan bangkit dengan iman yang kokoh, ilmu yang luas, dan amal yang nyata.

0 comments:
Posting Komentar