Dwi Jatmiko

Pendakwah

Foto Jurnalistik: Bahasa Visual yang Menggerakkan Media

Leave a Comment

 



EDUAILA.COM, - Penggunaan foto jurnalistik dalam koran dan majalah mulai berkembang pada era 1930-an. 

Sejak saat itu, dunia pers memasuki babak baru. 

Foto tidak lagi sekadar hiasan pelengkap teks, tetapi menjadi bahasa visual yang mampu menyampaikan realitas dengan lebih kuat, lebih cepat, dan lebih emosional dibandingkan kata-kata.

Perkembangan tersebut berlangsung begitu cepat. Dalam tempo singkat, foto jurnalistik menjelma menjadi jantung pemberitaan. 

Suatu peristiwa yang dilaporkan lewat kata-kata mungkin memerlukan paragraf panjang untuk menggambarkan suasana. 

Namun, sebuah foto yang tepat dapat bercerita tanpa kalimat. Inilah kekuatan foto jurnalistik: objektivitas visual yang segera dapat ditangkap mata pembaca.

Di Indonesia, perkembangan foto jurnalistik mulai menonjol setelah kemerdekaan. 

Koran dan majalah nasional memanfaatkan foto bukan hanya sebagai dokumentasi, melainkan sebagai instrumen perjuangan. 

Foto pejuang, suasana perang, hingga potret rakyat yang bertahan hidup, semuanya menjadi saksi sejarah yang tak terbantahkan. 

Foto menjelma sebagai bukti otentik sekaligus penguat narasi perjuangan bangsa.

Kini, di era digital, foto jurnalistik menemukan ruang baru. 

Media daring mampu menampilkan foto dalam resolusi tinggi, mempercepat distribusinya, dan memperluas jangkauannya. 

Teknologi kamera yang semakin canggih membuat setiap jurnalis, bahkan masyarakat umum, bisa menjadi pengabadikan momen. 

Tetapi, esensi foto jurnalistik tetap sama: menghadirkan kebenaran, merekam fakta, dan menyampaikan cerita kemanusiaan.

Foto jurnalistik bukan sekadar seni, melainkan juga etika. 

Setiap gambar mengandung tanggung jawab moral agar tidak menyesatkan, tidak direkayasa, dan tetap berpihak pada nilai kemanusiaan. 

Dengan begitu, foto bukan hanya menjadi pelengkap berita, melainkan jiwa yang menghidupkan jurnalistik itu sendiri.

Sejak 1930-an hingga era digital hari ini, perjalanan foto jurnalistik membuktikan satu hal: gambar mampu melintasi batas kata, bahasa, bahkan generasi. 

Ia tetap menjadi medium paling universal untuk menyampaikan kebenaran.

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 comments:

Posting Komentar