EDUAILA.COM, Samarinda – Perjalanan hidup Alrako Ibrahim (49), pria kelahiran Banjarmasin, 3 Juli 1976, adalah kisah tentang ketekunan, kerja keras, dan pengabdian di banyak bidang. Dari dunia teknologi informasi (IT), perbankan, hingga kuliner, kini ia mengabdikan diri melalui dunia pendidikan dan dakwah di Samarinda, Kalimantan Timur.
Sehari-hari, Alrako yang akrab disapa Abu Raihaan aktif di Aslam Islamic Learning Academy (AILA) dan Akademi Bina Dakwah Indonesia (ABDI). Ia dipercaya menangani bagian media dan administrasi, sekaligus mendampingi para santri di bidang komputer serta kegiatan ekstrakurikuler memasak.
“Bagi saya, ilmu itu bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi harus dibagikan agar bermanfaat bagi orang lain,” ungkapnya.
Jejak Panjang Karier
Perjalanan Alrako dimulai sejak remaja. Tahun 1992, ia sudah terjun membantu orang tuanya di bidang advertising, pembuatan spanduk, dan sablon. Dunia komputer kemudian membawanya menjadi Asisten Dosen di Akademi Manajemen Informatika Komputer (AMIK) Banjarmasin (1996–1998) dan pengajar di LPPK Mitreka Komputer.
Kemampuannya membuatnya dipercaya bergabung dengan Banjarmasin Post Grup (1999–2000) di bagian IT. Kariernya berlanjut lebih dari 16 tahun di dunia perbankan, tepatnya di Bank Internasional Indonesia (BII) yang kini menjadi Maybank Indonesia KCI Samarinda (2000–2016). Di sana ia merasakan berbagai posisi, mulai dari operator dan teknisi ATM, bagian umum, kliring, pembukuan, hingga IT.
Namun, jiwa wirausahanya tak pernah padam. Ia mendirikan usaha warung makan Padang (2016–sekarang), toko pakaian muslim (2011–2014), warung Mie Ayam Jakarta (2019–2020), hingga bakery (2016–2024). Dunia bakery bahkan menjadi keahlian yang terus diasahnya, dari membuat roti, donat, kue kering, bolu, mie, hingga frozen food.
Meski sudah lama berkecimpung di dunia komputer, semangat belajar Alrako tidak pernah padam. Ia menempuh pendidikan formal di AMIK Banjarmasin (2014–2018) dan meraih gelar Amd. Komp (Diploma 3).
Kemampuannya meliputi Microsoft Office, desain grafis dengan Canva, hingga editing video dengan Capcut. Di sisi lain, keterampilan bakery menjadi ciri khasnya yang melekat, sekaligus jembatan untuk mendidik para santri tentang kemandirian dan kreativitas.
Kini, Alrako menyalurkan pengalamannya di dunia pendidikan. Melalui AILA dan ABDI, ia membantu mengelola media dan administrasi, serta mendampingi santri.
“Komputer dan dapur, dua dunia yang berbeda tapi punya kesamaan. Keduanya butuh ketelitian, kesabaran, dan kreativitas,” katanya sambil tersenyum.
Dengan pengalamannya yang luas, Alrako Ibrahim menjadi teladan bagaimana ilmu, kerja keras, dan keikhlasan bisa berpadu. Dari dunia IT hingga bakery, dari bank hingga pesantren, semua dijalani demi satu tujuan: mengabdi dan memberi manfaat bagi sesama.

0 comments:
Posting Komentar