Dwi Jatmiko

Pendakwah

 


eduaila.com - Pernahkah Anda melihat sekolah dengan fasilitas gedung yang megah, laboratorium komputer tercanggih, hingga strategi marketing yang jor-joran, namun prestasi siswanya biasa-biasa saja? atau sebaliknya, ada sekolah yang sederhana, tetapi berhasil melahirkan murid yang kritis, berdaya juang tinggi, dan berkarakter kuat.


Fenomena ini sering kali membuat kita bertanya-tanya: Sebenarnya, apa sih yang menentukan keberhasilan sebuah ekosistem pendidikan?


Dosen sekaligus praktisi pendidikan, Dwi Jatmiko dalam materi kuliahnya di Aslam Islamic Learning Academy (AILA) pertemuan pertama dalam mata kuliah Psikologi dan Komunikasi Pendidikan, mengupas tuntas jawaban dari teka-teki ini. Menariknya, beliau membedah pendidikan bukan sekadar dari sudut pandang teknis ruang kelas, melainkan dari perpaduan intim antara psikologi, cara kita berkomunikasi, dan peran keluarga.


Yuk, kita bedah poin-poin pentingnya yang dikemas ala "kurikulum kehidupan" berikut ini!

1. Metafora Gunung Es: 95% Keberhasilan Dimulai dari Isi Kepala

Banyak dari kita—baik sebagai guru, orang tua, maupun pengelola lembaga—terjebak dalam kesalahan fatal. Kita sering menghabiskan 95% energi dan anggaran untuk mengurus hal-hal teknis: kurikulum baru, renovasi fasilitas, hingga teknologi mutakhir.


Padahal, dalam Anatomi Kesuksesan, hal-hal teknis itu hanyalah "pucuk gunung es" yang kontribusinya cuma 5%! Lalu, di mana 95% sisanya? Jawabannya ada di bawah permukaan air: Mindset (Pola Pikir).


Pola pikir inilah yang membentuk karakter, loyalitas, niat, dan etos kerja. Sebuah sekolah tidak akan pernah menjadi lembaga unggul jika orang-orang di dalamnya masih memelihara fixed mindset (pola pikir kaku).


Dalam keseharian, kita bisa melihat dua tipe perubahan bahasa yang mencerminkan realita mentalitas seseorang:

  • Mentalitas Korban ("Hanya Saja..."): Selalu fokus pada keterbatasan, mencari alasan, dan menolak perubahan.

Contoh: "Ide itu bagus, hanya saja kita tidak punya anggaran."

  • Etos Pejuang ("Justru Karena..."): Proaktif melihat peluang dalam tantangan dan berani mengambil tanggung jawab.

Contoh: "Justru karena orang tua siswa sekarang kritis, kita harus meningkatkan kualitas pelayanan."

Maka, langkah pertama dalam merestorasi pendidikan bukanlah mengganti buku cetak, melainkan melakukan recharging mindset pada kualitas sumber daya manusianya.


2. Komunikasi di Kelas: Bukan Sekadar Guru "Siaran", Murid "Mendengarkan"

Masuk ke ranah kelas, komunikasi sering kali berjalan searah. Guru merasa sudah mendidik hanya karena sudah berbicara di depan papan tulis. Padahal, berdasarkan KBBI, komunikasi itu sejatinya adalah proses pengiriman dan penerimaan pesan agar tujuan keduanya saling dipahami.


Di sinilah Psikologi Komunikasi mengambil peran penting, yaitu sebagai ilmu yang mencoba mengurai, memprediksi, dan mengendalikan peristiwa mental serta perilaku manusia saat berinteraksi.


Pendidikan modern menegaskan bahwa anak didik bukanlah "bejana kosong" yang siap dituangkan air secara pasif. Mereka adalah penerima pesan yang interaktif dan transaktif. Komunikasi pembelajaran baru dikatakan sukses jika terjadi yang namanya commonness (kesamaan pemahaman)—di mana pesan yang ditangkap oleh siswa ditafsirkan persis seperti niat dan maksud gurunya.


Untuk mencapai tingkat pemahaman tersebut, seorang guru idealnya mengombinasikan dua dimensi bahasa:

  • Komunikasi Verbal (Lisan/Tulisan): Berfungsi menjamin kejernihan dan akurasi transfer informasi teknis melalui penjelasan modul atau buku.
  • Komunikasi Non-Verbal (Isyarat): Menggunakan kontak mata, postur tubuh, intonasi, ekspresi wajah, hingga jarak fisik (proxemics). Melalui bahasa tubuh inilah guru bisa memancarkan emosi positif sekaligus membaca kondisi psikologis murid secara seketika.

3. Segitiga Emas: Guru, Siswa, dan Rumah Sebagai "Madrasah Pertama"

Satu hal yang tidak boleh dilupakan: pendidikan bukan sekadar transfer ilmu pasif, melainkan sebuah ekosistem interaksi yang dinamis. Ada hubungan segitiga emas yang erat antara Guru, Siswa, dan Keluarga.

  • Pilar Guru: Kualitas komunikasinya membentuk struktur pemahaman materi pada anak.
  • Pilar Keluarga: Dukungan sosial ekonomi dan lingkungan rumah yang damai membentuk fondasi ketahanan mental serta fisik anak.
  • Inti Siswa: Titik temu dari kedua pilar di atas yang akhirnya menghasilkan dorongan internal untuk maju.

Keluarga bukan sekadar lembaga biologis untuk pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Lebih dari itu, keluarga adalah arsitektur karakter tempat anak mendapatkan asuhan kognitif awal dan keteladanan moral. Singkatnya, rumah adalah Madrasah Pertama bagi anak sebelum intervensi sekolah.


Ketika fungsi keluarga berjalan dengan baik, anak akan mendapatkan stabilitas mental dan fisik. Rasa aman inilah yang menjadi modal utama bagi anak untuk memiliki kesiapan belajar di sekolah. Energi mereka tidak habis untuk mencemaskan masalah di rumah, sehingga gairah mereka bisa dialihkan sepenuhnya menuju pelaksanaan kewajiban akademik.


4. Menyalakan "Mesin" Motivasi dari Dalam

Ketika guru mengajar dengan prima dan keluarga mendukung dengan lingkungan yang sehat, maka akan lahir konvergensi luar biasa pada diri siswa, yaitu Motivasi Belajar.


Motivasi adalah "mesin" transformasi energi psikologis dalam diri individu. Tanpa adanya motivasi, aktivitas sekolah hanya akan menjadi rutinitas yang kering dan pasif. Di dalam materi ini, motivasi dibagi menjadi dua lapisan:

  • Motivasi Ekstrinsik (The Shell / Kulit Luar): Dipicu oleh stimulus luar seperti perintah, pujian, hadiah, atau fasilitas. Ini efektif sebagai pemantik awal, namun sayangnya sangat bergantung pada keberadaan stimulus tersebut.
  • Motivasi Intrinsik (The Core / Inti Utama): Lahir murni dari dalam diri sendiri, seperti kesadaran diri, minat pada materi, dan aspirasi masa depan. Inilah motivasi yang jauh lebih kuat, mandiri, dan tahan lama.

Siswa yang sudah menyalakan mesin motivasi intrinsiknya akan menunjukkan indikator perilaku yang sangat positif: mereka konsisten menghadapi tugas panjang, memiliki resiliensi (tidak mudah putus asa saat gagal), tetap fokus, kritis dalam mencari solusi, dan memiliki kemandirian tinggi untuk merancang cara belajarnya sendiri.


5. Berkaca pada Kearifan Lokal dan Nilai Spiritual

Sebagai penutup yang reflektif, Dwi Jatmiko mengingatkan kita untuk kembali pada akar filosofi pendidikan kita, yaitu ajaran Ki Hajar Dewantara: "Ing ngarso sung tulodho, ing madya mangun karso, tut wuri handayani". Guru harus menjadi teladan aktif di depan, pembangun inisiatif di tengah, dan pemberi dorongan moral dari belakang.


Secara spiritual, pengorbanan para pendidik dan orang tua pun telah dijanjikan kehidupan yang baik (Hayatan Tayyibah) oleh Sang Pencipta bagi siapa saja yang menjaga fondasi keimanan, melayani dengan ikhlas, dan merawat amal usahanya dengan loyalitas penuh (QS. An-Nahl: 97).


Pendidikan memang bukan perkara mudah. Ia bukan sekadar mentransfer nilai di atas kertas raport, melainkan sebuah seni menyentuh hati, mengubah pola pikir, dan membangun manusia seutuhnya.


Jadi, sebagai pendidik atau orang tua, sudahkah kita mulai membenahi fondasi gunung es kita hari ini?








eduaila.com - Kunci kampung yang berkah dan bahagia menjadi tema salat Subuh Berjamaah dan Kajian Subuh di Masjid Al-Ikhlas Bayan Krajan RT 4 RW 15 Kadipiro Banjarsari Kota Surakarta, Minggu (17/5/2026) 


Tema tersebut disampaikan oleh Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko.


Di awal kajiannya, guru PAI SD Muhammadiyah 1 Ketelan itu mengingatkan seperti dalam penggalan Surat Al-An’am ayat 162, Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil alamin.


“Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah kepunyaan Allah,” ujarnya, sambil tersenyum.


Dia mengajak jemaah untuk merenungi dua konsep dasar dalam islam yang tak lekang oleh waktu, yaitu iman dan takwa. Selain itu, ia juga mengupas secara mendalam tentang makna, hubungan dan implementasi keduanya dalam kehidupan sehari-hari orang islam.


Iman, secara bahasa berarti percaya, sedangkan secara istilah adalah keyakinan dalam hati, pengakuan dengan lisan, serta pembuktian melalui amal perbuatan. Sebagaimana firman Allah dalam Qs al-A’raf ayat 96.


“Seandainya seluruh penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Maka kunci kampung berkah dan bahagia bisa diawali dengan geraka WA, yaitu waosan alquran atau baca al quran dan faham artinya,” ajaknya.


Keberkahan ini dapat berupa rezeki yang melimpah dan kemudahan dalam segala urusan untuk warga kampung, mudah untuk umrah, haji, sehat rohani, seger waras tanpa obat kimiawi maupun fisik.


Di akhir pengajian, Ustaz yang juga anggota Pimpinan Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (PDM) Solo itu mengajak jemaah untuk terus meningkatkan kualitas ibadah dengan peduli agama, peduli manusia, peduli lingkungan dan sistem serta memohon kepada Allah agar dimudahkan dalam menjalankan setiap amal saleh dalam kehidupan sehari-hari.


Melalui salat yang khusyuk di Masjid maupun di Musholla rumah, komunikasi yang baik, serta saling menjaga dari perilaku yang dapat mendatangkan murka Allah, suami istri mampu menciptakan rumah tangga yang penuh ketenangan dan keberkahan. 


“Semoga setiap pasangan mampu mengamalkan nilai-nilai keislama, rumahku surgaku, sehingga rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah bisa haji dan umrah dengan mudah,” pungkasnya.







 


eduaila.com - Pendidikan pada hakikatnya bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan upaya strategis dalam mewariskan nilai, membentuk karakter, serta menentukan arah peradaban manusia.


Dalam konteks ini, pendidikan menjadi penolong bagi manusia untuk menjalani kehidupan yang bermakna, sekaligus instrumen penting dalam memperbaiki nasib individu maupun kolektif suatu bangsa. 


Lebih dari itu, pendidikan juga berfungsi sebagai fondasi dalam membangun masyarakat yang beradab, beretika, dan berkemajuan.


Secara spesifik, Pendidikan Islam memiliki kekhasan tersendiri karena bersumber dari ajaran Nabi Muhammad Saw. yang menitikberatkan pada penanaman nilai akidah atau ketauhidan. 


Nilai ini menjadi inti dari seluruh proses pendidikan, karena dari akidah yang kuat akan lahir perilaku yang benar, etika yang mulia, serta tanggung jawab sosial yang tinggi. 


Pendidikan Islam tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga membangun kecerdasan spiritual dan emosional secara seimbang.


Namun, realitas yang dihadapi saat ini menunjukkan kondisi yang cukup memprihatinkan. Pendidikan Islam di Indonesia kerap dipandang sebelah mata dan dianggap tertinggal dibandingkan dengan sistem pendidikan umum. 


Kesan “terbelakang” ini muncul bukan tanpa alasan, mulai dari keterbatasan inovasi, metode pembelajaran yang kurang adaptif, hingga minimnya dukungan terhadap pengembangan lembaga pendidikan Islam itu sendiri. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka pendidikan Islam akan semakin tertinggal dan kehilangan relevansinya di tengah dinamika zaman.


Oleh karena itu, diperlukan langkah konkret berupa inovasi dan penataan ulang fungsi pendidikan Islam, khususnya dalam sistem pendidikan di sekolah. Inovasi ini harus dilakukan secara berkelanjutan, tidak bersifat sementara, serta mampu menjawab tantangan globalisasi dan perkembangan teknologi.


Pembelajaran Pendidikan Agama Islam harus dirancang lebih kontekstual, menarik, dan aplikatif, sehingga peserta didik tidak hanya memahami ajaran agama secara teoritis, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.


Selain itu, penguatan pada aspek kelembagaan juga sangat penting. Lembaga pendidikan Islam perlu dikelola secara profesional, transparan, dan berbasis pada kebutuhan zaman. Di sisi lain, kualitas tenaga pendidik harus menjadi prioritas utama. 


Guru tidak hanya dituntut menguasai materi, tetapi juga memiliki etos kerja tinggi, profesionalisme, serta kemampuan pedagogik yang mumpuni. Guru adalah teladan, sehingga kualitas pribadi mereka akan sangat menentukan keberhasilan pendidikan.


Perbaikan kurikulum juga menjadi langkah strategis yang tidak bisa diabaikan. Kurikulum Pendidikan Islam harus adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar Islam. Integrasi antara ilmu agama dan ilmu umum perlu diperkuat agar menghasilkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia.


Dengan upaya yang terarah, berkesinambungan, dan komprehensif, Pendidikan Islam di Indonesia memiliki peluang besar untuk bangkit dan menjadi pilar utama dalam membangun peradaban yang unggul dan berkarakter.

 


EDUAILA.COM - Kurikulum MI lebih terfokus pada penguatan pendidikan agama Islam melalui mata pelajaran khusus seperti Al-Qur'an, Hadis, Fiqih, dan Akhlak, serta integrasi nilai-nilai religius ke dalam mata pelajaran umum. 

Sementara itu, kurikulum SD menempatkan pendidikan agama Islam sebagai bagian dari mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, yang porsinya lebih terbatas dibanding MI. 

Namun, SD lebih unggul dalam penerapan pendekatan tematik yang menghubungkan nilai-nilai moral dengan konteks kehidupan sehari-hari.



Madrasah Ibtidaiyah memiliki ciri khas sebagai lembaga pendidikan berbasis Islam yang mengintegrasikan ilmu agama dengan ilmu umum. 

Kurikulumnya dirancang untuk menanamkan nilai-nilai keislaman secara mendalam melalui mata pelajaran seperti Al-Qur'an, Hadis, Fiqih, dan Akhlak (Hasbullah, 2015). 

Sementara itu, Sekolah Dasar sebagai bagian dari sistem pendidikan umum di Indonesia juga memasukkan pendidikan agama dalam kurikulumnya, namun dengan porsi yang lebih terbatas dan disesuaikan dengan kerangka pendidikan nasional yang bersifat inklusif (Kemendikbud, 2013).

Perbedaan mendasar antara kurikulum MI dan SD terletak pada prioritas dan kedalaman pembelajaran nilai-nilai religius. 

MI memiliki struktur kurikulum yang secara khusus menyediakan waktu lebih banyak untuk pendidikan agama, sementara SD lebih menekankan pendidikan umum dengan tambahan pelajaran agama sebagai pendukung (Hidayat & Suherman, 2020). 

Namun, kedua kurikulum sama-sama berupaya mencetak generasi yang beriman, berakhlak mulia, dan berdaya saing.




EDUAILA.COM - Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) di Sekolah Dasar (SD) memiliki peran strategis dalam membentuk karakter, moral, dan kepribadian peserta didik sejak usia dini. 


Melalui PAI, siswa tidak hanya diajarkan pengetahuan keagamaan, tetapi juga dibimbing untuk mengamalkan nilai-nilai Islam seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, serta sikap toleransi dalam kehidupan sehari-hari. 


Dengan demikian, PAI menjadi fondasi penting dalam mencetak generasi yang berakhlak mulia dan berintegritas.


Namun, di era globalisasi saat ini, tantangan yang dihadapi dunia pendidikan semakin kompleks. Perkembangan teknologi informasi, arus budaya asing, serta perubahan gaya hidup masyarakat memberikan pengaruh signifikan terhadap pola pikir dan perilaku anak. 


Hal ini menuntut kurikulum PAI untuk tidak hanya bersifat normatif dan teoritis, tetapi juga adaptif, kontekstual, dan relevan dengan realitas kehidupan modern.


Penyesuaian kurikulum PAI perlu dilakukan dengan mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 


Misalnya, pemanfaatan media digital sebagai sarana pembelajaran yang menarik dan interaktif, sehingga siswa lebih mudah memahami materi sekaligus termotivasi untuk belajar. 


Selain itu, pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) juga penting diterapkan agar siswa dapat langsung mempraktikkan ajaran Islam dalam kehidupan nyata.


Guru PAI juga dituntut untuk memiliki kompetensi yang memadai, baik dalam penguasaan materi keagamaan maupun kemampuan pedagogik dan teknologi. 


Peran guru tidak lagi sekadar sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai teladan, motivator, dan fasilitator dalam membentuk karakter siswa.


Dengan kurikulum PAI yang adaptif dan inovatif, diharapkan pendidikan agama di SD mampu menjawab tantangan globalisasi tanpa kehilangan esensi nilai-nilai Islam. 


Hal ini penting agar generasi muda tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual dan moral dalam menghadapi perkembangan zaman.




 


eduaila.com - Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) terus berkembang mengikuti dinamika zaman. 


Salah satu pendekatan yang dinilai efektif dalam meningkatkan pemahaman sekaligus keterampilan peserta didik adalah model Project Based Learning (PjBL)


Model ini menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif yang belajar melalui pengalaman nyata, kolaborasi, dan pemecahan masalah berbasis proyek.


Dalam kegiatan pembelajaran yang disampaikan oleh Dosen PAI Dwi Jatmiko, M.Pd., Gr., CPS., C.ALA. melalui platform Zoom di AILA, model Project Based Learning diperkenalkan sebagai strategi yang relevan untuk membentuk karakter religius sekaligus kompetensi abad 21. 


Pembelajaran tidak lagi berpusat pada ceramah, tetapi pada aktivitas peserta didik dalam merancang, melaksanakan, dan mempresentasikan proyek yang berkaitan dengan nilai-nilai Islam.


Menurut Dwi Jatmiko, penerapan PjBL dalam PAI dapat dilakukan melalui berbagai proyek kontekstual, seperti pembuatan video dakwah sederhana, laporan praktik ibadah, kampanye akhlak mulia, atau proyek kepedulian sosial berbasis ajaran Islam. 


Melalui proses tersebut, peserta didik tidak hanya memahami konsep keagamaan secara teoritis, tetapi juga menginternalisasi nilai iman, ibadah, dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.


Model Project Based Learning memiliki beberapa keunggulan dalam pembelajaran PAI. Pertama, meningkatkan keterlibatan peserta didik karena mereka belajar melalui pengalaman langsung. Kedua, melatih keterampilan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi. Ketiga, menumbuhkan tanggung jawab serta kesadaran spiritual melalui praktik nyata nilai-nilai Islam.


Pelaksanaan pembelajaran melalui Zoom menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi sarana efektif dalam pendidikan agama. Interaksi daring tetap mampu menghadirkan diskusi bermakna, presentasi proyek, serta refleksi spiritual peserta didik secara interaktif.


Dengan demikian, penerapan Project Based Learning dalam pembelajaran PAI menjadi langkah strategis untuk menghadirkan pendidikan agama yang bermakna, kontekstual, dan berdampak. Melalui pendekatan ini, peserta didik diharapkan tidak hanya mengetahui ajaran Islam, tetapi juga mampu mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan nyata secara sadar dan bertanggung jawab.





 


eduaila.com - Bagi Dwi Jatmiko, M.Pd., dosen Pendidikan Agama Islam (PAI), pendidikan agama tidak cukup dipahami sebagai proses transfer pengetahuan normatif semata. 

Lebih dari itu, Pendidikan Agama Islam merupakan ikhtiar sadar untuk menuntun peserta didik menjalani kehidupan yang selaras dengan ajaran Islam. 

Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Zuhairini dan kawan-kawan yang sejak awal menegaskan bahwa PAI bertujuan membantu manusia hidup sesuai tuntunan agama.

Di ruang kelas, Dwi Jatmiko menempatkan Pendidikan Agama Islam sebagai sebuah sistem yang utuh.


Sistem ini dirancang untuk membina dan mengembangkan potensi jasmani serta rohani peserta didik secara seimbang. 


Al-Qur’an dan Hadis menjadi fondasi utama, bukan hanya sebagai sumber hukum, tetapi juga sebagai pedoman etika, moral, dan cara pandang hidup. 


Pendidikan, dalam konteks ini, diposisikan sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya.


Namun, Dwi Jatmiko tidak berhenti pada teks. 


Ia menekankan pentingnya ayat-ayat kauniyah, tanda-tanda kebesaran Allah yang terhampar di alam semesta, sebagai dasar pengembangan keilmuan Pendidikan Agama Islam. 


Menurutnya, alam bukan sekadar objek kajian sains, melainkan ruang tafakur yang memperkuat iman dan kesadaran spiritual. 


Dari fenomena alam, peserta didik diajak membaca keteraturan, keseimbangan, dan nilai tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.


Pendekatan ini dinilai relevan di tengah tantangan zaman yang ditandai oleh kemajuan teknologi, krisis moral, dan pergeseran nilai sosial. 


Pendidikan Agama Islam, kata Dwi Jatmiko, harus hadir sebagai jawaban, bukan sekadar pelengkap kurikulum. 


Ia perlu membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir kritis, sikap moderat, serta kepekaan sosial yang berakar pada nilai-nilai Islam.


Dengan mengintegrasikan Al-Qur’an, Hadis, dan ayat-ayat kauniyah, Pendidikan Agama Islam diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya religius secara ritual, tetapi juga cerdas, berakhlak, dan bertanggung jawab dalam kehidupan sosial. 


Pendidikan, pada akhirnya, menjadi jalan untuk menautkan iman, ilmu, dan amal dalam satu tarikan napas peradaban.








 


 

Oleh Ust. Rachmat Agung Cahyo, S.E.

Juru Kisah Nasional

 

Manusia mulia kekasih Allah SWT pun tak pernah luput dari ujian. Bahkan, cobaan yang datang padanya mungkin lebih besar daripada apa yang kita alami saat ini. Hal itu bukan tanpa maksud: sebagai bukti keimanan sekaligus teladan bagi seluruh umat, agar darinya kita belajar bersabar dalam menghadapi setiap ujian hidup.

 

Deretan Ujian Rasulullah

 

Perjalanan hidup Rasulullah SAW tak lepas dari kesedihan karena kehilangan, bahkan sebelum Beliau lahir, saat sekitar enam bulan dalam kandungan, Ayahnya telah mendahului pergi, Wafat. Kemudian ketika berusia enam tahun, di tengah perjalanan pulang dari ziarah makam Ayah di Madinah, sekitar 35 kilo meter perjalanan, baru sampai di kota Abwa' Ibunda Aminah sakit kemudian wafat.


Selanjutnya, Beliau diasuh oleh Kakek Abdul Muthalib, dua tahun kemudian, jatah usia sang kakek yang menyayanginya sudah habis, Abdul Muthalib wafat, meninggalkan Rasulullah diwaktu masih kecil usia 8 tahun. Barulah kemudian, Pamannya, Abu Thalib yang penuh cinta menjaga dan melindungi Beliau dengan segenap hati.

 

Pada tahun kesepuluh kenabian (sekitar tahun 619 Masehi), Rasulullah kehilangan dua orang yang menjadi benteng perlindungan-Nya: Abu Thalib dan istri tercinta, Khadijah binti Khuwailid RA. Kepergian kedua orang terkasih itu membuat orang-orang kafir semakin berani mengganggu Beliau, bahkan menertawakan kesedihan yang dialami oleh kekasih Allah.

 

Allah Hibur Rasulullah 

 

Di tengah kesusahan yang mendalam itu pada tahun ke dua belas setelah kenabian (sekitar tahun 622 M) Allah SWT tidak tinggal diam. Pada suatu malam di bulan Rajab, Beliau mengutus malaikat Jibril AS untuk membawa Rasulullah dalam perjalanan luar biasa – Isra' dan Mi'raj.

 

Dengan kendaraan yang kecepatannya seperti kilat bernama Buraq, Rasulullah dibawa dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem. Dari sana, Beliau naik meninggalkan bumi, melintasi tujuh lapis langit hingga mencapai Sidratul Muntaha, menghadap Sang Pencipta.

 

Allah SWT berfirman: "Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Al-Isra' [17]: 1)

 

Hikmah


Di dunia ini, tak ada yang kekal selain Allah SWT. Orang-orang yang kita cintai, dan mereka yang mencintai kita, pasti akan pergi meninggalkan kita – atau bahkan kita yang mendahului mereka. Namun, satu hal yang pasti: Allah tidak akan pernah meninggalkan kita, selama kita tetap menyadari keberadaan-Nya dan terus mendekatkan diri pada-Nya.

 

Setelah peristiwa Isra' dan Mi'raj yang terjadi pada tanggal 27 Rajab, Rasulullah menjadi lebih mantap dan teguh. "Oleh-oleh" berharga dari perjalanan semalam itu adalah wahyu perintah sholat lima waktu dalam sehari semalam. Sholat bukan sekadar kewajiban, melainkan kesempatan emas untuk menghadap Allah, merasakan kehadiran-Nya yang selalu menyertai kita.

 

Mari kita berusaha menikmati setiap saat menghadap-Nya dalam sholat, dengan menyadari bahwa kita tidak pernah sendirian – Allah SWT selalu bersama kita.

 

EDUAILA.COM - Masjid bukan sekadar bangunan tempat ibadah, tetapi pusat pembinaan iman dan ketakwaan umat Islam. 


Setiap langkah kaki seorang muslim menuju masjid memiliki nilai spiritual yang tinggi di sisi Allah SWT. Hal ini ditegaskan dalam hadis Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. 


Beliau bersabda tentang amalan yang dapat menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat seseorang di sisi Allah. 


Para sahabat pun bertanya dengan penuh antusias, dan Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa amalan tersebut adalah menyempurnakan wudhu meskipun dalam kondisi sulit, memperbanyak langkah menuju masjid, serta menunggu shalat setelah melaksanakan shalat lainnya.


Hadis ini memberikan pelajaran mendalam bahwa Islam sangat menghargai kesungguhan dan pengorbanan dalam beribadah. 


Menyempurnakan wudhu dalam keadaan tidak nyaman, seperti cuaca dingin atau kondisi lelah, melatih keikhlasan dan kesabaran. 


Wudhu bukan sekadar membersihkan anggota badan, tetapi juga membersihkan dosa dan menyiapkan hati untuk menghadap Allah SWT.


Memperbanyak langkah ke masjid menunjukkan komitmen seorang hamba terhadap shalat berjamaah.


Setiap langkah yang ditempuh tidak sia-sia, karena Allah mencatatnya sebagai pahala dan penghapus kesalahan. 


Semakin jauh jarak yang ditempuh dengan niat ibadah, semakin besar pula ganjaran yang dijanjikan. Ini menjadi motivasi bagi umat Islam untuk tidak bermalas-malasan dalam memenuhi panggilan Allah.


Adapun menunggu shalat setelah shalat lainnya disebut oleh Rasulullah ﷺ sebagai ribat. Istilah ini biasanya digunakan untuk orang yang berjaga di medan perang, namun dalam konteks ibadah, ia menggambarkan kesungguhan menjaga ketaatan dan konsistensi dalam beribadah. 


Menunggu shalat berarti menjaga hati tetap terikat dengan masjid dan dzikir kepada Allah.


Melalui hadis ini, umat Islam diajak untuk memakmurkan masjid dan menjadikan shalat sebagai pusat kehidupan. 


Langkah-langkah kecil menuju masjid sejatinya adalah langkah besar menuju ampunan dan kemuliaan di sisi Allah SWT. 


Semoga kita termasuk hamba-hamba yang istiqamah dalam memakmurkan masjid dan menjaga ibadah hingga akhir hayat. Aamiin.



 


eduaila.com - Pengembangan karakter siswa merupakan tujuan utama pendidikan, khususnya di madrasah yang berlandaskan ajaran Islam. 


Namun, realitas di lapangan menunjukkan masih banyak siswa yang mengalami berbagai permasalahan, baik akademik, sosial, maupun moral. 


Kesulitan menginternalisasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari sering dipengaruhi oleh lemahnya pemahaman spiritual, kurangnya pengendalian diri, serta metode bimbingan yang belum optimal. 


Dalam konteks inilah, teknik konseling Islami hadir sebagai pendekatan yang relevan dan holistik untuk menangani siswa bermasalah.


Bimbingan dan Konseling Islam memiliki asas-asas fundamental yang berorientasi pada pembentukan karakter religius siswa. 


Asas kebahagiaan dunia dan akhirat menekankan bahwa setiap proses konseling tidak hanya bertujuan menyelesaikan masalah sesaat, tetapi juga mengarahkan siswa pada kebahagiaan hakiki yang bernilai ibadah. 


Asas fitrah memandang siswa sebagai makhluk Allah yang memiliki potensi kebaikan, sehingga konselor bertugas membantu mengembalikan siswa pada jati diri yang lurus sesuai fitrahnya.


Selanjutnya, asas amal saleh dan akhlak mulia menekankan pentingnya pembiasaan perilaku positif sebagai wujud nyata dari keimanan. 


Konselor tidak hanya memberi nasihat, tetapi juga membimbing siswa agar mampu mempraktikkan nilai-nilai Islam dalam sikap dan tindakan. 


Asas mujadalah, yaitu diskusi yang baik, diterapkan melalui dialog terbuka, santun, dan argumentatif sehingga siswa merasa dihargai dan dilibatkan dalam proses pemecahan masalah.


Adapun asas mau’izatul-hasanah menjadi landasan penting dalam menyampaikan bimbingan dengan penuh hikmah, kasih sayang, dan keteladanan. 


Melalui pendekatan ini, siswa tidak merasa dihakimi, melainkan diarahkan dengan kelembutan hati. Dengan mengintegrasikan asas-asas tersebut, teknik konseling Islami mampu memperkuat dimensi spiritual, intelektual, dan sosial siswa secara seimbang. 


Pada akhirnya, konseling Islami berperan strategis dalam membentuk siswa yang berkarakter Islami, berakhlak mulia, dan mampu menghadapi tantangan kehidupan secara bijaksana. 


Peran guru bimbingan dan konseling menjadi sangat strategis karena mereka berfungsi sebagai pendidik, pembimbing, sekaligus teladan akhlak. 


Dengan kompetensi profesional dan spiritual yang memadai, konselor Islami dapat menciptakan iklim pembinaan yang menenangkan, solutif, dan berkelanjutan bagi perkembangan kepribadian siswa di lingkungan sekolah. 


Pendekatan ini selaras dengan visi pendidikan Islam yang menyeimbangkan iman, ilmu, dan amal secara utuh.



 


eduaila.com - Tes Kemampuan Akademik (TKA) dilatarbelakangi oleh kebutuhan adanya pelaporan capaian akademik individu murid dari penilaian yang terstandar. Mulai tahun 2025, ada tes baru bernama Tes Kemampuan Akademik atau TKA.Tes ini resmi menggantikan Ujian Nasional yang sudah lama tidak dipakai.


Dikutip dari laman media sosial YouTube milik "Kemdikdasmen" Tujuan TKA adalah mengukur kemampuan belajar siswa secara merata di seluruh Indonesia. Prinsip pelaksanaannya tetap menekankan kejujuran, keterbukaan, dan hasil yang bisa dipertanggungjawabkan.





EDUAILA.COM - Pandangan Islam terhadap kekerasan seksual dalam pendidikan berangkat dari prinsip bahwa setiap manusia adalah makhluk mulia yang wajib dihormati martabat, kehormatan, dan keselamatannya. 


Al-Qur’an menegaskan larangan mendekati perbuatan keji, termasuk segala bentuk pelecehan, pemaksaan, dan eksploitasi tubuh. 


Nabi Muhammad SAW juga mencontohkan sikap penuh kasih, penghargaan terhadap perempuan, anak, dan kelompok rentan, serta melarang keras tindakan yang melukai fisik maupun batin.


Dalam konteks pendidikan, kekerasan seksual tidak hanya merusak korban, tetapi juga menghancurkan suasana belajar, kepercayaan diri, masa depan, bahkan nama baik lembaga. 


Islam memandang lembaga pendidikan sebagai tempat aman, suci, dan bermartabat. Guru diposisikan sebagai figur teladan, penjaga akhlak, bukan pelaku intimidasi atau penyalahgunaan kuasa. 


Oleh karena itu, setiap bentuk pelecehan, baik verbal, fisik, digital, maupun psikologis, termasuk dosa besar dan pelanggaran moral.


Islam menekankan tanggung jawab kolektif. 


Orang tua, pendidik, pengelola sekolah, dan masyarakat wajib mencegah, melindungi, melaporkan, serta memberi dukungan pemulihan bagi korban. 


Pendidikan tentang adab pergaulan, batas interaksi yang aman, literasi digital, dan kesadaran hak tubuh sangat penting ditanamkan sejak dini tanpa menimbulkan stigma.


Selain itu, keadilan harus ditegakkan. 


Pelaku harus diproses sesuai hukum negara dan nilai syariat yang menjunjung keadilan, pencegahan, dan efek jera, sementara korban harus dipulihkan martabatnya dengan empati, pendampingan psikologis, spiritual, dan sosial. 


Dengan demikian, Islam tidak hanya menolak kekerasan seksual, tetapi mendorong terciptanya ekosistem pendidikan yang aman, bermartabat, humanis, serta berlandaskan iman, takwa, dan penghormatan terhadap martabat kemanusiaan. 


Upaya ini menuntut komitmen kebijakan sekolah yang tegas, mekanisme pelaporan yang jelas, pelatihan etika bagi pendidik, serta budaya keterbukaan tanpa takut disalahkan. 


Kurikulum juga perlu memasukkan pendidikan karakter, nilai kesetaraan gender, dan penghargaan terhadap hak asasi manusia sebagai amanah keimanan.


 Bila nilai-nilai ini dijalankan, pendidikan tidak hanya mentransfer ilmu, namun membentuk generasi berakhlak, berani bersuara, saling melindungi, dan menghargai batasan. Inilah wujud nyata rahmat Islam yang melindungi setiap jiwa di lingkungan belajar. 


Dengan kesadaran bersama, sekolah menjadi tempat aman yang membesarkan harapan dan masa depan bagi seluruh siswa.


Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. 


Semoga Allah melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami nabi Muhammad SAW, beserta para keluarga dan sahabatnya. 


Ya Allah,segala yang telah ku kerjakan selama tahun ini dari apa yang menjadi larangan-Mu,sedang kami belum bertaubat,padahal Engkau tidak melupakannya dan Engkau bersabar (dengan kasih sayang-Mu), yang sesungguhnya Engkau berkuasa memberikan siksa untuk saya,dan Engkau telah mengajak saya untuk bertaubat sesudah melakukan maksiat.Karena itu ya Allah, saya mohon ampunan-Mu dan berilah ampunan kepada saya dengan kemurahan-Mu.


Do'a Akhir Tahun

اَللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي هَذِهِ السَّنَةِ مَا نَهَيْتَنِي عَنْهُ وَلَمْ أَتُبْ مِنْه وَحَلُمْتَ فِيْها عَلَيَّ بِفَضْلِكَ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوبَتِي وَدَعَوْتَنِي إِلَى التَّوْبَةِ مِنْ بَعْدِ جَرَاءَتِي عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّي اسْتَغْفَرْتُكَ فَاغْفِرْلِي وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَى وَوَعَدْتَّنِي عَلَيْهِ الثّوَابَ فَأَسْئَلُكَ أَنْ تَتَقَبَّلَ مِنِّي وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ 


Artinya, "Tuhanku, aku meminta ampun atas perbuatanku di tahun ini yang termasuk Kau larang-sementara aku belum sempat bertobat, perbuatanku yang Kau maklumi karena kemurahan-Mu-sementara Kau mampu menyiksaku, dan perbuatan (dosa) yang Kau perintahkan untuk tobat-sementara aku menerjangnya yang berarti mendurhakai-Mu. Karenanya aku memohon ampun kepada-Mu. Ampunilah aku".


Doa Awal Tahun

 اَللَّهُمَّ أَنْتَ الأَبَدِيُّ القَدِيمُ الأَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ العَظِيْمِ وَكَرِيْمِ جُوْدِكَ المُعَوَّلُ، وَهَذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ، أَسْأَلُكَ العِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِه، وَالعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ الأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ، وَالاِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ 

Artinya, "Tuhanku, Kau yang Abadi, Qadim, dan Awal. Atas karunia-Mu yang besar dan kemurahan-Mu yang mulia, Kau menjadi pintu harapan. Tahun baru ini sudah tiba. Aku berlindung kepada-Mu dari bujukan Iblis dan para walinya di tahun ini".

 


eduaila.com - Masjid At Taufiq Bayan Krajan, Kadipiro Solo akan menggelar kegiatan Taujih Subuh Berjamaah dengan tema “Banyaknya Jalan Kebaikan” pada 4 Januari 2026 pukul 04.01 WIB


Kegiatan ini menghadirkan Ustadz Dwi Jatmiko, M.Pd., Da’i Champions MUI Pusat, yang dikenal aktif berdakwah dan menyampaikan pesan–pesan keislaman yang sejuk, mendidik, serta memotivasi jamaah untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.


Acara ini menjadi bagian dari upaya menghidupkan kajian subuh sebagai sarana pembinaan spiritual jamaah. Waktu subuh dipilih karena merupakan momen penuh keberkahan, di mana hati masih jernih dan pikiran lebih fokus untuk menerima nasihat kebaikan. 


Melalui tema “Banyaknya Jalan Kebaikan”, jamaah diajak untuk memahami bahwa kesempatan beribadah dan berbuat baik terbuka luas dalam setiap aspek kehidupan, baik melalui ibadah ritual, amal sosial, maupun kontribusi positif bagi masyarakat.


Kehadiran Ustadz Dwi Jatmiko diharapkan mampu memberikan pencerahan dengan pendekatan yang komunikatif, inspiratif, dan membangun optimisme. 


Beliau sering menekankan pentingnya keikhlasan, konsistensi ibadah, serta kepedulian kepada sesama sebagai wujud nyata keimanan. 


Dengan gaya penyampaian yang hangat dan mudah dipahami, materi yang disampaikan diharapkan tidak hanya menambah pengetahuan keagamaan, tetapi juga mendorong jamaah untuk langsung mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.


Pengurus Masjid At Taufiq mengundang seluruh masyarakat, khususnya warga Kadipiro dan sekitarnya, untuk menghadiri kegiatan ini. 


Selain mendapatkan ilmu dan motivasi, jamaah juga dapat memperkuat ikatan ukhuwah Islamiyah melalui kebersamaan dalam shalat subuh berjamaah dan mendengarkan tausiyah.


Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi momentum awal tahun untuk memperkuat iman, memperbanyak amal kebaikan, serta membangun semangat beribadah secara istiqamah. 


Dengan kebersamaan dan tekad yang kuat, diharapkan jamaah semakin yakin bahwa jalan menuju kebaikan selalu terbuka bagi siapa pun yang ingin meraihnya.

 



EDUAILA.COM - Konseling Islam merupakan proses pendampingan psikologis dan spiritual yang berlandaskan ajaran Al-Qur’an, Hadis, serta nilai-nilai akhlak karimah. 

Dalam praktiknya, konseling Islam tidak hanya bertujuan menyelesaikan masalah, tetapi juga membina kepribadian yang lebih tenang, matang, dan dekat dengan Allah SWT. 

Dosen dan praktisi pendidikan, Dwi Jatmiko, M.Pd., Gr., CPS., C.ALA, menjelaskan bahwa konseling Islam menempatkan manusia sebagai makhluk berfitrah baik, yang membutuhkan bimbingan agar kembali pada keseimbangan hati, pikiran, dan perilaku.

Salah satu prinsip utama konseling Islam adalah tauhid, yakni menanamkan kesadaran bahwa segala permasalahan hidup harus dikembalikan pada keyakinan kepada Allah. 

Prinsip ini melahirkan ketenangan, karena klien diajak memahami bahwa ujian hidup adalah bagian dari rencana Ilahi. 


Prinsip selanjutnya adalah rahmah dan empati, di mana konselor harus menampilkan sikap kasih sayang, memahami kondisi klien tanpa menghakimi, serta membangun hubungan yang penuh kepercayaan.


Selain itu, konseling Islam menekankan pendekatan akhlak, yakni mengarahkan klien pada perilaku yang lebih baik berdasarkan nilai moral Islam. 


Hal ini dilakukan melalui nasihat yang bijak, refleksi diri, dan motivasi untuk memperbaiki diri. 


Prinsip tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa juga menjadi bagian penting, yaitu membantu klien membersihkan hati dari kecemasan, rasa bersalah, atau putus asa melalui dzikir, doa, dan penguatan spiritual.


Menurut Dwi Jatmiko, konseling Islam juga harus profesional dan ilmiah, memadukan pengetahuan psikologi modern dengan nilai religius sehingga relevan dengan kebutuhan zaman. 


Dengan prinsip-prinsip tersebut, konseling Islam diharapkan mampu menghadirkan ketenangan batin, keteguhan iman, serta perubahan perilaku yang lebih positif dalam kehidupan individu dan sosial.




 


eduaila.com - Saudara-saudara jemaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Pertama-tama, marilah kita mengucapkan segala puji atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kita berbagai macam nikmat, terutama nikmat Iman, Islam, dan kesehatan sehingga kita masih dapat melaksanakan kewajiban shalat Jumat secara berjamaah pada hari ini.


Marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah SWT dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena hanya dengan ketakwaanlah hidup kita akan mendapatkan keberkahan dan keselamatan di dunia maupun akhirat.


Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, suri teladan sepanjang masa. Berkat perjuangan beliau, kita dapat merasakan nikmatnya hidayah Islam hingga hari ini. Semoga kita semua termasuk umat yang mendapat syafaat beliau di hari kiamat, Amin ya Rabbal ‘Alamin.


Kaum muslimin rahimakumullah,
Pada kesempatan khutbah Jumat ini, kita berada pada akhir bulan Jumadil Akhir dan sebentar lagi akan memasuki bulan Rajab 1447 Hijriah. Kedatangan bulan Rajab merupakan salah satu nikmat waktu yang Allah karuniakan kepada kita, karena bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan oleh Allah SWT.


Dalam bulan-bulan haram, umat Islam dianjurkan untuk lebih menjaga diri dari perbuatan dosa serta memperbanyak amal kebaikan seperti istighfar, dzikir, sedekah, dan ibadah-ibadah sunnah lainnya. Ini adalah kesempatan besar yang seharusnya tidak kita sia-siakan.


Allah SWT telah menegaskan keutamaan bulan haram dalam firman-Nya pada Surat At-Taubah Ayat 36:

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ


Artinya:
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi; di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya…” (QS. At-Taubah: 36)


Ayat ini mengingatkan kita agar lebih berhati-hati dalam berbuat dosa, menjaga lisan, menjaga hati, serta memperbanyak amal saleh pada bulan-bulan mulia ini. Karena setiap amal kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya, dan setiap dosa juga semakin besar perhitungannya.


Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Menjelang datangnya Rajab berarti kita semakin dekat dengan Ramadhan. Rajab adalah momentum persiapan. Jika seorang petani mempersiapkan tanahnya sebelum musim tanam, demikian pula seorang muslim seharusnya mempersiapkan hati, iman, dan amalnya sebelum datangnya Ramadhan. Maka mari kita:

  • Perbanyak istighfar agar hati bersih dari dosa

  • Perbanyak dzikir agar hati selalu ingat kepada Allah

  • Perbanyak sedekah agar semakin peka terhadap sesama

  • Perbanyak doa agar Allah memberi kesempatan bertemu Ramadhan dalam keadaan sehat dan bertakwa


Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba-hamba yang mampu memanfaatkan waktu dengan baik dan memberi keberkahan dalam setiap langkah kehidupan kita.


Saudara-saudara jemaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Pertama-tama, marilah kita mengucapkan segala puji atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kita berbagai macam nikmat, terutama nikmat Iman, Islam, dan kesehatan sehingga kita masih dapat melaksanakan kewajiban shalat Jumat secara berjamaah pada hari ini.


Marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah SWT dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena hanya dengan ketakwaanlah hidup kita akan mendapatkan keberkahan dan keselamatan di dunia maupun akhirat.


Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, suri teladan sepanjang masa. Berkat perjuangan beliau, kita dapat merasakan nikmatnya hidayah Islam hingga hari ini. Semoga kita semua termasuk umat yang mendapat syafaat beliau di hari kiamat, Amin ya Rabbal ‘Alamin.


Kaum muslimin rahimakumullah,
Pada kesempatan khutbah Jumat ini, kita berada pada akhir bulan Jumadil Akhir dan sebentar lagi akan memasuki bulan Rajab 1447 Hijriah. Kedatangan bulan Rajab merupakan salah satu nikmat waktu yang Allah karuniakan kepada kita, karena bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan oleh Allah SWT.


Dalam bulan-bulan haram, umat Islam dianjurkan untuk lebih menjaga diri dari perbuatan dosa serta memperbanyak amal kebaikan seperti istighfar, dzikir, sedekah, dan ibadah-ibadah sunnah lainnya. Ini adalah kesempatan besar yang seharusnya tidak kita sia-siakan.


Allah SWT telah menegaskan keutamaan bulan haram dalam firman-Nya pada Surat At-Taubah Ayat 36:

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ


Artinya:
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi; di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya…” (QS. At-Taubah: 36)


Ayat ini mengingatkan kita agar lebih berhati-hati dalam berbuat dosa, menjaga lisan, menjaga hati, serta memperbanyak amal saleh pada bulan-bulan mulia ini. Karena setiap amal kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya, dan setiap dosa juga semakin besar perhitungannya.


Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Menjelang datangnya Rajab berarti kita semakin dekat dengan Ramadhan. Rajab adalah momentum persiapan. Jika seorang petani mempersiapkan tanahnya sebelum musim tanam, demikian pula seorang muslim seharusnya mempersiapkan hati, iman, dan amalnya sebelum datangnya Ramadhan. Maka mari kita:

  • Perbanyak istighfar agar hati bersih dari dosa

  • Perbanyak dzikir agar hati selalu ingat kepada Allah

  • Perbanyak sedekah agar semakin peka terhadap sesama

  • Perbanyak doa agar Allah memberi kesempatan bertemu Ramadhan dalam keadaan sehat dan bertakwa


Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba-hamba yang mampu memanfaatkan waktu dengan baik dan memberi keberkahan dalam setiap langkah kehidupan kita.


Khutbah Kedua (Singkat)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita kembali meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Mohonlah kepada-Nya agar kita diberi kesehatan, umur panjang dalam ketaatan, serta kesempatan bertemu bulan Rajab, Syaban, dan Ramadhan dengan keadaan iman yang kuat.


اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبلغنا رمضان
“Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Syaban serta sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan.”


Mari kita akhiri khutbah ini dengan memperbanyak doa:

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات
ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

عباد الله، إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون…

فاقيموا الصلاة…