Soleh Amini.Psikolog[1]
Assalamu'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil 'alamin.
Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang sampai hari ini
masih memberikan kepada kita kesempatan untuk menikmati kehidupan, kesehatan,
berkumpul dengan saudara-saudara, menghadiri majelis ilmu, dan yang lebih
penting, masih memberikan kesempatan kepada kita untuk memperbaiki diri dan
menambah amal. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan
kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya.
Bapak-Ibu yang saya hormati
dan saya muliakan.
Hari ini kita berkumpul
sebagai para pensiunan guru dan kepala sekolah, para pendidik yang selama
puluhan tahun telah mengabdikan hidupnya untuk mendidik dan mencerdaskan
generasi. Kita telah melewati masa muda, masa bekerja, masa mendidik anak-anak,
bahkan sebagian dari kita telah memimpin sekolah dan ikut membangun lembaga
pendidikan. Kini Allah memberikan kepada kita kesempatan memasuki fase
kehidupan yang berbeda.
Karena itu, ada satu
pertanyaan penting yang perlu kita renungkan: apa yang akan kita lakukan dengan
sisa usia yang Allah berikan kepada kita?
Bapak-Ibu, menjadi tua
bukanlah pilihan. Kita boleh memilih sekolah, pekerjaan, atau tempat tinggal,
tetapi kita tidak dapat memilih untuk tidak menjadi tua. Allah SWT mengingatkan
dalam QS. Ar-Rum ayat 54 bahwa manusia diciptakan dalam keadaan lemah, kemudian
menjadi kuat, dan akhirnya kembali menjadi lemah dan beruban. Maka rambut
putih, keriput, langkah yang melambat, atau tenaga yang berkurang bukanlah
sebuah kegagalan. Itu adalah sunnatullah.
Bahkan, tidak semua orang
mendapatkan kesempatan untuk menjadi tua. Ada yang meninggal ketika masih bayi,
remaja, atau ketika baru mulai bekerja. Maka ketika kita telah memasuki usia
lanjut, jangan hanya berkata, “Saya sudah tua.” Tetapi katakanlah,
“Alhamdulillah, Allah masih memberikan saya kesempatan untuk menjadi tua.” Usia
lanjut bukan sekadar bertambahnya umur, tetapi bertambahnya kesempatan untuk
memperbaiki kehidupan.
Bapak-Ibu yang saya muliakan.
Pensiun juga bukan berarti
selesai. Bagi seorang guru atau kepala sekolah, pensiun memang dapat
menimbulkan perubahan psikologis. Selama bertahun-tahun kita dipanggil Pak
Guru, Bu Guru, Pak Kepala Sekolah atau Bu Kepala Sekolah. Setiap hari ada
murid, ada guru, ada rapat, ada tanggung jawab. Kemudian semuanya berhenti.
Kita bisa bertanya, “Sekarang saya siapa?”
Tetapi Islam mengajarkan bahwa
pensiun dari pekerjaan bukan pensiun dari kehidupan, dan pensiun dari jabatan
bukan pensiun dari pengabdian. Dahulu kita mengabdi melalui sekolah, sekarang
kita dapat mengabdi melalui keluarga dan masyarakat. Dahulu kita mendidik
murid, sekarang kita mendidik cucu. Dahulu kita memimpin guru, sekarang kita
dapat menjadi teladan bagi lingkungan.
Jadi jangan pernah mengatakan,
“Saya sudah tidak berguna.” Katakanlah, “Allah sedang memindahkan ladang
pengabdian saya.”
Karena itu, jangan hanya
berdoa agar umur kita panjang. Berdoalah agar umur kita panjang dan penuh
berkah. Sebab umur panjang belum tentu berarti kehidupan yang bermakna. Yang
kita inginkan adalah umur yang sehat, penuh syukur, bermanfaat, dan semakin dekat
kepada Allah. Tujuan kita bukan hanya menambah usia pada kehidupan, tetapi
menambahkan kehidupan pada usia.
Lalu bagaimana agar kita dapat
menjalani masa tua dengan sehat, sejahtera, bahagia, dan tetap bermanfaat?
Pertama, rawat
tubuh kita. Tubuh adalah amanah Allah. Karena itu, usia bertambah bukan alasan
untuk berhenti bergerak. Berjalan kaki, senam, berkebun, melakukan pekerjaan
rumah yang aman, tidur cukup, dan memeriksakan kesehatan secara berkala
merupakan bentuk ikhtiar menjaga amanah Allah. Rasulullah SAW bersabda bahwa
mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang
lemah. Kuat bagi orang lanjut usia tidak berarti harus seperti anak muda; kuat
berarti masih mampu melakukan kebaikan sesuai kemampuan.
Kedua, jaga
makanan dan gaya hidup. Allah berfirman dalam QS. Al-A'raf ayat 31, “Makan
dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.” Semakin bertambah usia, makanan
perlu semakin diperhatikan. Kurangi yang berlebihan, perhatikan gula, garam,
dan lemak, serta ikuti nasihat tenaga kesehatan. Tetapi jangan lupa, makan juga
merupakan kesempatan membangun kebersamaan. Makan bersama keluarga, berbicara,
bercanda, dan berbagi cerita dapat menjadi obat bagi kesepian.
Ketiga, jangan
biarkan otak kita pensiun. Pensiun boleh, tetapi belajar jangan pensiun.
Membaca buku dan Al-Qur'an, mengikuti pengajian, berdiskusi, menulis, belajar
teknologi, atau memahami dunia anak dan cucu adalah cara menjaga pikiran tetap
hidup. Bapak-Ibu dahulu adalah guru. Maka jadilah guru sampai akhir hayat.
Tidak harus memiliki kelas dan papan tulis. Cucu kita adalah murid, keluarga
dan masyarakat adalah ruang kelas kita, sedangkan pengalaman hidup kita adalah
bahan ajarnya.
Keempat, jangan
kehilangan teman dan silaturahmi. Kesepian bisa terjadi bahkan ketika rumah
kita ramai. Karena itu, tetaplah bertemu sahabat, mengikuti pengajian, kegiatan
Muhammadiyah, kegiatan sosial, olahraga bersama, dan menjenguk orang lain. Kita
perlu merasa bahwa kita masih menjadi bagian dari komunitas dan masih memiliki
manfaat bagi orang lain.
Kelima, rawat
jiwa dengan mendekat kepada Allah. Tubuh membutuhkan makanan, pikiran
membutuhkan ilmu, perasaan membutuhkan kasih sayang, manusia membutuhkan teman,
dan jiwa membutuhkan Allah. Allah berfirman dalam QS. Ar-Ra'd ayat 28, “Ingatlah,
hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” Maka semakin tua
hendaknya semakin dekat kepada Allah. Shalat, membaca Al-Qur'an, berdzikir,
berdoa, bersedekah, bersilaturahmi, dan menghadiri majelis ilmu jangan kita
tinggalkan.
Bapak-Ibu yang saya hormati.
Kita juga perlu memahami bahwa
bahagia tidak berarti tidak pernah sakit, dan sejahtera tidak berarti harus
kaya. Kebahagiaan adalah kemampuan memaknai kehidupan dan mensyukuri apa yang
masih Allah berikan. Tanyakan kepada diri kita: apakah saya masih dicintai,
masih dapat mencintai, masih berguna, masih mempunyai tujuan, dan masih dekat
dengan Allah? Jika jawabannya iya, insyaallah kita masih mempunyai alasan yang
sangat kuat untuk bahagia.
Bapak-Ibu para pensiunan guru
dan kepala sekolah yang saya muliakan, saya ingin menyampaikan satu
penghormatan: Bapak-Ibu adalah perpustakaan hidup. Di dalam diri Bapak-Ibu
tersimpan pengalaman mendidik, memimpin, menghadapi murid, membangun sekolah,
menghadapi perubahan zaman, dan pengalaman perjuangan Muhammadiyah. Jangan
biarkan semua itu hilang bersama usia. Ceritakan kepada anak dan cucu,
tuliskan, ajarkan, dan wariskan.
Akhirnya, marilah kita
menerima usia tua tanpa menyerah kepada usia tua. Kita menerima tubuh yang
tidak lagi sekuat dahulu, tetapi tetap bergerak. Kita menerima rambut yang
memutih, tetapi tetap belajar. Kita menerima pensiun, tetapi tetap mengabdi.
Kita menerima kehilangan, tetapi tetap bersyukur. Dan kita menyadari bahwa
kematian semakin dekat, bukan untuk membuat kita takut, tetapi untuk mendorong
kita mempersiapkan bekal.
QS. Al-'Ashr mengingatkan
bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan
beramal saleh. Karena itu, jangan menunggu tua untuk menjadi baik, jangan
menunggu sakit untuk mendekat kepada Allah, dan jangan menunggu kehilangan
untuk bersyukur. Hari ini adalah waktu terbaik untuk berbuat baik.
Bapak-Ibu yang saya muliakan.
Menjadi tua adalah kepastian,
tetapi menjadi tua dengan baik adalah pilihan. Kita tidak dapat menghentikan
rambut menjadi putih, tetapi kita dapat membuat hati semakin bersih. Kita tidak
dapat menghentikan tubuh menjadi lemah, tetapi kita dapat membuat iman semakin
kuat. Kita tidak dapat menghentikan waktu, tetapi kita dapat mengisinya dengan
amal.
Marilah kita jadikan masa tua
sebagai masa memperbanyak syukur, memperluas kasih sayang, memperbaiki
hubungan, mewariskan ilmu, memperbanyak sedekah dan amal, serta semakin dekat
kepada Allah SWT.
Semoga Allah memberikan kepada
kita umur yang panjang dalam ketaatan, kesehatan yang cukup untuk beribadah,
rezeki yang berkah, keluarga yang penuh kasih sayang, hati yang tenteram,
kehidupan yang bermanfaat, dan husnul khatimah.
Ya Allah, jika Engkau
panjangkan usia kami, panjangkan pula kebaikan kami. Jika Engkau kurangi
kekuatan tubuh kami, jangan Engkau kurangi kekuatan iman kami. Jika Engkau
kurangi kemampuan kami, jangan Engkau kurangi kesempatan kami untuk berbuat
baik. Dan ketika suatu saat Engkau memanggil kami, panggillah kami dalam
keadaan Engkau ridha kepada kami.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
[1] Drs. Soleh amini Yahman. MSi. Psikolog
(Cd. Doc). Dosen Fakultas Psikologi
Universitas Muhammadiyah Surakarta

0 comments:
Posting Komentar